Iran Bantah Klaim Trump soal Kesepakatan dengan AS, Negosiasi Nuklir Masih Berlangsung

- Sabtu, 30 Mei 2026 | 10:35 WIB
Iran Bantah Klaim Trump soal Kesepakatan dengan AS, Negosiasi Nuklir Masih Berlangsung

Iran menegaskan bahwa belum ada kesepakatan yang tercapai dengan Amerika Serikat, meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan mungkin sudah dekat. Pernyataan itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Jumat (29/5/2026) sebagai respons langsung terhadap komentar Trump. Baghaei menekankan bahwa Teheran tetap berfokus pada upaya mengakhiri konflik dan negosiasi mengenai program nuklirnya masih belum terselesaikan.

Sebelumnya, Trump telah menguraikan sejumlah syarat untuk potensi kesepakatan, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembatasan aktivitas nuklir Iran. Pernyataan dari kedua pihak ini menyoroti ketidakpastian yang masih menyelimuti proses negosiasi, kendati sebelumnya ada isyarat kemajuan menuju perpanjangan gencatan senjata yang sebagian besar telah berlaku sejak April.

Selat Hormuz menjadi perhatian utama, terutama bagi pasar energi global. Jalur air strategis ini menangani sekitar seperlima dari aliran minyak dunia dan merupakan jalur krusial bagi ekspor minyak mentah dari Timur Tengah. Gangguan terhadap lalu lintas di selat tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi global dan harga komoditas secara signifikan.

Di sisi lain, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UK Maritime Trade Operations) mengeluarkan peringatan pada Jumat bahwa blokade militer AS terhadap pelabuhan Iran masih berlaku, sehingga membatasi lalu lintas masuk dan keluar kapal. Badan tersebut juga menyarankan kapal-kapal komersial yang melintasi wilayah itu untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap komunikasi dan operasi militer yang sedang berlangsung.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa pelonggaran pembatasan terhadap Iran akan dilakukan secara bertahap. Ia juga mengungkapkan bahwa otoritas AS telah menyita aset mata uang kripto milik Iran senilai USD1 miliar sebagai bagian dari kampanye ekonomi Washington terhadap Teheran. Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengklaim bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kemajuan signifikan menuju kesepakatan perpanjangan gencatan senjata, meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai persediaan uranium yang diperkaya Iran.

Seorang sumber senior Iran, yang dikutip secara terpisah oleh Reuters, mengatakan bahwa kedua pihak telah mencapai "pemahaman politik," namun belum ada kesepakatan akhir yang tercapai. Media Iran juga membantah sejumlah elemen dari kerangka kerja yang diusulkan Trump, termasuk klaim terkait bahan nuklir Iran dan pengaturan pengiriman di Selat Hormuz.

Sejumlah lembaga internasional, termasuk Badan Energi Internasional (EIA), Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Organisasi Perdagangan Dunia, memperingatkan bahwa gangguan berkelanjutan terhadap arus pengiriman melalui Selat Hormuz dapat meningkatkan risiko terhadap keamanan bahan bakar, kondisi pasar, dan ketahanan ekonomi yang lebih luas. Para investor kini menunggu pengumuman resmi dari Gedung Putih setelah Trump bertemu dengan para pejabat senior keamanan nasional untuk membahas potensi kesepakatan tersebut.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar