Dari Ancaman Abrasi Jadi Berkah, Pantai Tlangoh Madura Bangkit Berkat Wisata

- Selasa, 23 Desember 2025 | 13:12 WIB
Dari Ancaman Abrasi Jadi Berkah, Pantai Tlangoh Madura Bangkit Berkat Wisata

Garis pantai Madura di Jawa Timur punya cerita baru. Dulu, hamparan pasir putih di Desa Tlangoh ini terus menyusut diterjang gelombang. Ancaman abrasi nyata. Tapi sekarang, pemandangannya berbeda. Kawasan itu justru bertransformasi jadi penopang ekonomi warga, berkat hadirnya destinasi wisata yang mulai ramai.

Perubahannya tak instan. Semua berawal dari upaya serius menahan laju pengikisan pantai, yang melibatkan masyarakat dan dukungan dari Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO).

Kepala Desa Tlangoh, Kudrotul, masih ingat betul bagaimana kondisi dulu. Setiap tahun, antara Desember sampai Maret, adalah masa-masa sulit. Air laut naik, sementara aliran air dari perbukitan dan wilayah sekitarnya juga mengalir deras ke sana. Dua kekuatan alam itu seolah ‘bertabrakan’ di depan desanya.

“Akhirnya ketika air ini naik di bulan 12 sampai bulan 2, air gunung itu turun… Akhirnya bertabrakan di tengah. Sehingga abrasi besar di sini,”

Kata Kodratul suatu senin di Desember lalu, sambil menatap Pantai Pasir Putih Tlangoh. Menurutnya, laju abrasi waktu itu bisa mencapai 7 meter per tahun. Sungguh mengkhawatirkan.

Nah, sebagai respons, PHE WMO lalu memasang struktur buatan bernama Hexareef. Bentuknya heksagonal, fungsinya untuk meredam energi ombak. Upaya teknis ini ternyata membawa hasil. Studi bersama ITS menunjukkan laju abrasi turun drastis, jadi cuma sekitar satu sampai dua meter per tahun.

Namun begitu, yang menarik justru langkah selanjutnya. Mitigasi tak cuma soal pasang batu. Mereka juga membentuk Pokdarwis, alias Kelompok Sadar Wisata. Kelompok inilah yang kemudian didampingi agar bisa mengelola potensi wisata pantai secara mandiri.

“Dengan adanya PHE WMO yang sudah membantu dan juga memberi ruang untuk kami di sini dengan membantu dengan adanya wisata. Ini agak mengurangi untuk adanya abrasi,”

tutur Kodratul. Baginya, dukungan itu telah membuka ruang ekonomi baru berbasis potensi lokal.

Memang, tantangan alam seperti pasang dan limpasan air belum sepenuhnya hilang. Tapi setidaknya, dampak ekonominya sudah jauh lebih bisa dikendalikan ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

Popularitas pantai ini pun mulai meroket. Zainuddin, salah satu perwakilan Pokdarwis, merasakan betul imbasnya. Menurutnya, peningkatan kunjungan wisata harus diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia. Untungnya, PHE WMO juga membantu di sisi ini dengan berbagai pelatihan.

“(PHE WMO) pernah mendatangkan tutor nasional ya. Jadi itu untuk memberi pemahaman tentang bagaimana mengelola wisata. Karena wisata ini, peluang orang datang untuk wisata ini sekali,”

ujar Zainuddin.

Dampaknya nyata. Banyak warga yang dulu merantau atau ‘hanya’ jadi ibu rumah tangga, kini punya peluang kerja di desa. Mulai dari buka UMKM, kelola lahan parkir, sampai jualan aneka kebutuhan wisatawan. Zainuddin memperkirakan sudah ada sekitar 40 UMKM yang tumbuh karena ini.

Tak cuma ekonomi, citra desa pun ikut terdongkrak. Di 2018, Desa Tlangoh bahkan pernah menyabet gelar desa terbaik kedua se-Kabupaten Bangkalan. Prestasi yang cukup membanggakan.

“Karena ini salah satu pantai dengan bina Pertamina itu. Tapi ke depan memang ini namanya kan butuh pengembangan ke depan. Tidak cukup seperti ini. Karena tadi disampaikan, semakin ke depan ini persaingan semakin ketat,”

tambahnya, menyadari bahwa perjalanan masih panjang.

Berdasarkan catatan PHE WMO, hingga kini sudah ada 395 unit Hexareef yang berdiri kokoh di Pantai Tlangoh. Rencananya, pemasangan akan terus dilanjutkan bertahap, meski kapasitas produksinya masih sekitar 100 unit per tahun.

Ke depan, pantai ini bukan sekadar tujuan rekreasi. Ia bisa jadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara korporasi, pemerintah desa, dan masyarakat bisa membangun ekosistem pesisir yang lebih tangguh. Yang tak hanya menahan abrasi, tapi juga mengubahnya jadi berkah.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar