Wall Street Menguat di Awal Sesi, Tekanan Sektor Teknologi dan EV Masih Membayangi

- Jumat, 06 Februari 2026 | 22:20 WIB
Wall Street Menguat di Awal Sesi, Tekanan Sektor Teknologi dan EV Masih Membayangi

Wall Street akhirnya menunjukkan napas lega di awal sesi Jumat. Setelah seminggu penuh tekanan, terutama dari sektor teknologi, seluruh indeks utama bergerak naik. Dow Jones melesat 0,8 persen, sementara S&P 500 dan Nasdaq juga mencatatkan kenaikan masing-masing 0,5 dan 0,4 persen. Pemulihan ini seperti angin segar setelah penurunan tajam yang terjadi sehari sebelumnya.

Namun begitu, optimisme ini masih terasa hati-hati. Secara mingguan, S&P 500 dan Nasdaq diprediksi masih akan menutup pekan di zona merah. Mereka bahkan sempat tergelincir ke level terendah sepanjang tahun 2026. Jadi, meski pagi ini hijau, sentimen pasar belum sepenuhnya pulih.

Lalu, apa yang mendorong rebound ini? Tampaknya pasar mencerna kembali komentar dari sejumlah CEO dan analis teknologi besar. Mereka berusaha meredam kekhawatiran bahwa kehadiran alat-alat AI baru akan langsung mengubur teknologi lama. Harapannya, pekan ini bisa ditutup dengan sedikit pemulihan.

Di sisi lain, berita buruk masih datang dari beberapa emiten. Amazon, misalnya, tercatat anjlok 8 persen. Laporan pendapatannya mengungkap rencana pengeluaran besar-besaran hingga USD 200 miliar di tahun 2026, sementara perkiraan pendapatan operasionalnya justru meleset dari proyeksi. Ini jelas membuat investor khawatir.

Bukan cuma Amazon. Gambaran suram juga datang dari lantai bursa otomotif.

Stellantis, produsen di balik merek Jeep, membuat peringatan keras. Mereka memperkirakan kerugian fantastis lebih dari 22 miliar euro akibat rencana pengurangan dorongan pada kendaraan listrik (EV). Imbasnya, sahamnya terjun bebas lebih dari 20 persen baik di Wall Street maupun bursa Milan.

Ini semakin mempertegas betapa beratnya tekanan di sektor EV, setelah sebelumnya BYD asal China juga mencatat kerugian yang sangat besar.

Pergerakan menarik juga terlihat di pasar komoditas. Harga perak berfluktuasi dengan cukup tajam. Tapi pada akhirnya, logam mulia itu kembali melemah. Menurut pantauan, penjualan oleh investor ritel China yang terus berlanjut menjelang libur nasional menjadi salah satu penyebabnya.

Ke depan, semua mata kini tertuju pada data ketenagakerjaan AS. Laporan pekerjaan untuk Januari yang sangat dinantikan, ternyata ditunda rilisnya hingga Rabu pekan depan. Penundaan ini justru membuat spekulasi makin panas. Apalagi belakangan muncul tanda-tanda masalah baru: lowongan kerja merosot ke level terendah sejak 2020, sementara pengumuman PHK justru melonjak. Data-data itu membuat kita semua menebak-nebak, apa yang sebenarnya terjadi.

Jadi, meski dibuka menguat, perjalanan pasar saham AS hingga akhir pekan ini masih panjang. Dan penuh ketidakpastian.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar