Likuiditas Indonesia Menggeliat, Uang Beredar Tembus Rp 9.891 Triliun

- Selasa, 23 Desember 2025 | 03:06 WIB
Likuiditas Indonesia Menggeliat, Uang Beredar Tembus Rp 9.891 Triliun

Likuiditas ekonomi Indonesia ternyata makin kencang bergerak di penghujung tahun. Tepatnya pada November 2025, perputaran uang di dalam negeri menunjukkan sinyal yang cukup menggembirakan. Bank Indonesia (BI) melaporkan, uang beredar dalam arti luas atau M2 tumbuh lebih tinggi ketimbang bulan sebelumnya. Artinya, ada kelonggaran yang cukup berarti.

Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, membeberkan datanya. "Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada November 2025 tumbuh lebih tinggi," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (22/12).

Denny merinci, pertumbuhan M2 pada November itu mencapai 8,3 persen secara tahunan. Angkanya melampaui capaian Oktober yang hanya 7,7 persen. Dengan kenaikan itu, total uang beredar pun membengkak sampai ke level Rp 9.891,6 triliun. Cukup fantastis.

Nah, peningkatan ini rupanya didorong oleh akselerasi di sisi uang beredar sempit (M1). Pertumbuhannya cukup kuat, yakni 11,4 persen. Ini jadi cermin bahwa aktivitas transaksi, baik masyarakat biasa maupun pelaku usaha, masih terjaga dengan baik. Tak cuma itu, uang kuasi juga ikut merangkak naik dengan pertumbuhan 5,9 persen.

Lalu, apa yang mendorong semua ini? Ternyata, peran pemerintah pusat dan sektor perbankan semakin kentara. Tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) tumbuh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya, tak lepas dari dinamika pengelolaan fiskal yang sedang berjalan.

"Perkembangan M2 pada November 2025 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan perkembangan penyaluran kredit," jelas Denny.

Ia memaparkan, tagihan bersih kepada Pempus pada November melesat 8,7 persen. Padahal bulan sebelumnya hanya 5,4 persen. Di sisi lain, perbankan juga tak mau ketinggalan. Fungsi intermediasinya menunjukkan perbaikan. Penyaluran kredit tumbuh 7,9 persen, lebih baik dari Oktober yang 7,0 persen.

Bagaimana dengan faktor eksternal? Aktiva luar negeri bersih memang masih tumbuh, meski sedikit melambat. Angkanya 9,7 persen di November, turun tipis dari Oktober yang 10,4 persen. Tapi secara keseluruhan, kondisi ini menunjukkan dinamika transaksi luar negeri dan cadangan devisa yang tetap stabil. Jadi, secara umum, gambaran likuiditas kita lagi cukup cerah.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar