Dari Becak ke Bursa: Siapa Pengendali Saham WEHA di Balik Legenda White Horse?

- Senin, 22 Desember 2025 | 18:40 WIB
Dari Becak ke Bursa: Siapa Pengendali Saham WEHA di Balik Legenda White Horse?

Kalau bicara soal bus pariwisata legendaris di Indonesia, nama White Horse pasti langsung terlintas. Nah, di balik operasional bus-bus itu ada PT Weha Transportasi Indonesia Tbk, atau WEHA, yang sahamnya tercatat di bursa efek. Tapi, siapa sebenarnya yang memegang kendali perusahaan transportasi dan logistik ini?

Ceritanya berawal jauh sebelum WEHA menjadi emiten. Semuanya dimulai pada era 60-an, ketika Adhi Tirtawisata memulai usaha dengan modal empat buah becak. Perjalanan bisnisnya kemudian berlanjut dengan mendirikan Batemuri Tours, sebuah perusahaan tur dan travel, pada 1971. Kala itu, operasionalnya masih sangat sederhana: cuma satu bus untuk melayani satu paket tur dalam kota.

Namun begitu, bisnisnya ternyata terus berkembang. Setelah melalui beberapa tahun, akhirnya di 1980 Adhi mendirikan perusahaan transportasi yang kita kenal sebagai White Horse. Momen inilah yang menjadi titik tolak. Dari sini, bisnis tur sekaligus transportasi pariwisata milik perseroan kian melebar.

Perkembangannya cukup signifikan. Pada 1997, armada mereka sudah beragam, mencakup mini bus, micro bus, hingga big bus. Lalu, memasuki 2009, WEHA memutuskan untuk merambah segmen lain: taksi dan travel antarkota. Mereka meluncurkan White Horse Premium Cab dan mengakuisisi PT Day Trans, pengelola shuttle Jakarta-Bandung.

Hasil dari ekspansi itu? Terbentuklah lima lini bisnis inti di tahun 2010. Kelimanya meliputi penyewaan bus, taksi eksekutif, penyewaan kendaraan dan limosin, layanan shuttle antarkota, serta tur sightseeing harian. Bisnis travel tradisionalnya pun bertransformasi, beralih ke format digital seiring zaman.

Lantas, setelah era kepemimpinan sang pendiri, siapa pemegang saham WEHA sekarang?

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 30 November 2025, struktur kepemilikannya cukup jelas. Ada beberapa pemegang saham mayoritas yang kepemilikannya melampaui 5%.

PT Panorama Sentrawisata memegang porsi terbesar, yakni 796 juta saham atau setara 54,54%. Posisi berikutnya dipegang oleh masyarakat (non-warkat) dengan 427 juta saham (29,3%), dan PT WEHA Investama menguasai 211 juta saham (14,5%).

Sedangkan untuk penerima manfaat akhir, atau pemilik sebenarnya, adalah Satrijanto Tirtawisata.

WEHA sendiri sudah go public sejak 2007. Kala itu, perseroan melepas 128 juta saham ke publik dengan harga penawaran Rp245 per lembar. Hasilnya? Dana segar sebesar Rp31,36 miliar berhasil dihimpun.

Performa sahamnya belakangan cukup menarik. Pada perdagangan Senin, 22 Desember 2025, WEHA ditutup menguat 15,91% di level Rp153 per saham. Kenaikan dalam sebulan terakhir bahkan mencapai 42,99%, yang membuatnya masuk dalam jajaran top gainer hari itu. Volume perdagangannya mencapai 2,99 juta saham dengan nilai transaksi Rp45,23 miliar.

Jadi, begitulah profil singkat kepemilikan WEHA. Dari bisnis becak hingga menjadi perusahaan transportasi terbuka, perjalanannya memang panjang dan penuh warna.

Komentar