Kalau bicara soal emiten pelayaran di sektor energi, nama PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) pasti tak asing. Perusahaan ini fokus pada jasa angkutan laut, terutama untuk mendukung industri pertambangan dan penggalian. Intinya, mereka menggerakkan komoditas dari satu titik ke titik lain lewat laut.
Lalu, apa saja sih yang sebenarnya dikerjakan TCPI? Menurut informasi dari laman resmi perusahaan, bisnis utamanya berputar di sekitar barging atau pengangkutan pakai tongkang. Mereka juga menangani long hauling, transshipment, dan pengangkutan solar industri lewat oil barges. Jadi, bayangkan saja, batu bara, nikel, CPO, dan barang curah lainnya diangkut menggunakan armada mereka.
Tak cuma itu. Perusahaan ini juga menyewakan tugboat untuk asistensi, menyediakan tongkang terapung sebagai tempat penyimpanan sementara, plus punya layanan mooring man dan tim penanggulangan tumpahan minyak. Jadi, layanannya cukup komprehensif untuk mendukung operasional di laut.
Di sisi lain, TCPI punya bisnis penunjang. Mereka merambah jasa reparasi kapal dan pengelolaan kapal. Jadi, selain mengangkut, mereka juga merawat.
Perjalanan bisnisnya sendiri dimulai pada 2007. Kontrak pertama mereka datang dari Arutmin Indonesia. Sejak itu, perlahan tapi pasti, mereka mendapatkan kepercayaan dari perusahaan-perusahaan tambang besar lainnya. Beberapa nama seperti Berau Coal, Jhonlin Marine Trans, Petromine Energy Trading, dan Kaltim Prima Coal pernah atau masih menjadi klien mereka. Wilayah operasinya mencakup Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, hingga Sulawesi.
Ekspansi signifikan terjadi di tahun 2018. Kala itu, TCPI mengakuisisi mayoritas saham PT Kanz Gemilang Utama. Langkah ini otomatis membuat mereka mengendalikan tiga anak usaha Kanz yang juga bergerak di bidang angkutan laut. Hingga 2024, kekuatan armada mereka cukup solid: 155 unit yang terdiri dari mother vessel, kapal tunda, tongkang, hingga alat berat dan peralatan pendukung lainnya.
Nah, pertanyaan besarnya: siapa yang mengendalikan perusahaan ini?
Berdasarkan data BEI per November 2025, ada dua pemegang saham pengendali. Yang pertama adalah PT Sari Nusantara Gemilang, dengan kepemilikan sekitar 55% saham.
Pemegang saham mayoritas berikutnya adalah PT Karya Permata Insani, menguasai sekitar 25% saham TCPI.
Sisanya, sekitar 20%, beredar di tangan publik. Namun, jika dirunut lebih jauh, penerima manfaat akhir atau pemilik sebenarnya dari kepemilikan saham ini adalah Abdullah Popo Parulian. Dua perusahaan pengendali tadi sendiri punya bisnis yang beragam, mulai dari perdagangan, real estate, hingga jasa angkutan darat dan perbengkelan.
TCPI resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2018. Mereka berhasil mengumpulkan dana segar Rp138 miliar dari penawaran perdana sahamnya. Kinerja sahamnya belakangan cukup menarik perhatian.
Pada sebuah sesi perdagangan di akhir Desember 2025, saham TCPI ditutup menguat sekitar 5%, berada di kisaran Rp8.950 per lembar. Bahkan, saham ini sempat masuk dalam daftar saham dengan nilai transaksi tinggi, mencatat transaksi ratusan miliar rupiah dalam satu hari. Dalam sebulan terakhir, harganya tercatat naik lebih dari 15%.
Begitulah sekilas profil dan kepemilikan PT Transcoal Pacific. Sebuah perusahaan yang tumbuh dari kontrak pertama di Kalimantan, hingga kini menjadi pemain penting di angkutan laut untuk sektor energi.
Artikel Terkait
OJK Bentuk Satgas Reformasi Integritas Pasar Modal, Naikkan Batas Free Float Jadi 15%
IHSG Turun 0,53% ke 8.103,88, Mayoritas Sektor Terkoreksi
Rupiah Melemah ke Rp16.842 per Dolar Dihantam Sentimen Geopolitik Timur Tengah
MNC Sekuritas Gelar Instagram Live Bahas Strategi Investasi Hadapi Volatilitas Pasar