Saham Gocap Gila-gilaan, Kenaikan Tembus Ribuan Persen di 2025

- Senin, 22 Desember 2025 | 07:25 WIB
Saham Gocap Gila-gilaan, Kenaikan Tembus Ribuan Persen di 2025

Tahun 2025 ini, pasar saham Indonesia benar-benar menunjukkan warna yang lain. Bukan saham-saham raksasa yang jadi bintang, melainkan justru emiten-emiten berkapitalisasi kecil yang kinerjanya meledak-ledak. Kenaikannya? Bukan puluhan atau ratusan persen, tapi sampai tembus ribuan persen. Sungguh luar biasa.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mengonfirmasi fenomena ini. Papan utama dipimpin oleh PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG). Sahamnya melesat fantastis, dengan imbal hasil year to date (YtD) mencapai 9.304,76 persen. Harga per unitnya kini bertengger di Rp3.950, menjadikannya top gainer paling agresif sejauh ini.

Di posisi kedua, ada PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE). Penguatannya juga gila-gilaan, sekitar 5.478,95 persen, dengan harga saham di Rp1.060. Menurut analis, pergerakan ini ditopang rencana aksi korporasi dan prospek perbaikan kinerja ke depannya.

Namun begitu, daftarnya masih panjang. PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) mencatat lonjakan 2.720,51 persen, sementara PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) milik Happy Hapsoro menguat 2.420,00 persen. BUVA sendiri dikabarkan sedang gencar melakukan rights issue untuk mendanai ekspansi perseroan.

Deretan saham lain yang juga meroket di atas 2.000 persen antara lain PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) besutan Haji Isam, lalu PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX), dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).

Nah, soal MORA ini menarik. Penguatan sahamnya ternyata terjadi sebelum ada pengumuman resmi tentang rencana penggabungan usahanya. Kabar merger dengan unit bisnis Grup Sinarmas, PT Eka Mas Republik (EMR) atau MyRepublic, baru beredar beberapa hari belakangan ini.

Tak ketinggalan, PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) dan PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) juga masuk dalam jajaran top gainers dengan catatan kenaikan yang sangat signifikan.

Di sisi lain, lonjakan ekstrem seperti ini tentu saja bukan tanpa risiko. Meski menggoda karena potensi keuntungannya yang besar, pergerakan harga yang terlalu tajam biasanya diiringi volatilitas tinggi. Bagi investor, terutama retail, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan. Perlu dicermati likuiditas, motif di balik aksi korporasi, dan tentu saja risiko koreksi yang bisa datang tiba-tiba. Pasar itu dinamis, naik tinggi bisa saja berujung jatuh keras.

Pada akhirnya, keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan Anda sebagai investor. Semua data dan analisis hanyalah alat bantu. Yang utama adalah pemahaman dan kesiapan menanggung risikonya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar