Wall Street menutup pekan dengan catatan hijau. Setelah beberapa hari bergerak tak menentu, pasar saham AS akhirnya menguat pada Jumat lalu, didorong terutama oleh bangkitnya kembali saham-saham teknologi.
Indeks Dow Jones naik 183,04 poin, mengantar levelnya ke 48.134,89. Sementara itu, S&P 500 bertambah hampir 60 poin, dan Nasdaq Composite melesat lebih dari 300 poin. Secara persentase, kenaikan Nasdaq terbilang paling impresif, mencapai 1,31%.
Namun begitu, kalau dilihat sepanjang pekan, ceritanya agak berbeda. Performa ketiga indeks itu tidak seragam. Dow Jones malah tercatat merosot 0,67%. S&P 500 dan Nasdaq memang naik, tapi tipis saja masing-masing 0,11% dan 0,48%.
Pemulihan saham teknologi, terutama raksasa-raksasa di sektor itu, jadi penyemangat utama. Momentum penguatan sudah terasa sejak Kamis, dan terus berlanjut setelah Micron Technology memproyeksikan kinerja yang positif. Kabar itu seperti angin segar bagi saham-saham berbasis kecerdasan buatan, yang sebelumnya sempat dihantui kekhawatiran soal valuasi yang sudah terlalu mahal.
Micron sendiri meroket 7%, mencatat harga penutupan tertinggi sepanjang sejarahnya. Nvidia juga ikut naik 3,9%, meski chip AI terbarunya sedang ditinjau ulang oleh pemerintah AS.
Di sisi lain, ada juga lonjakan mengejutkan dari saham Oracle. Sahamnya melesat 6,6% setelah ByteDance, perusahaan induk TikTok, menandatangani kesepakatan untuk menjual sebagian operasinya di AS kepada sebuah konsorsium investor yang melibatkan Oracle.
Thomas Martin, Manajer Portofolio Senior di Globalt Investments, melihat ini sebagai sinyal perubahan sentimen.
“Sektor teknologi, khususnya yang terkait AI, sempat berada di bawah tekanan cukup besar. Tapi ketika laporan Micron keluar dan pasar merespons dengan baik, orang-orang mulai berpikir mungkin sudah waktunya kembali ke saham-saham ini,” ujarnya.
Secara historis, memang akhir tahun seringkali membawa suasana positif bagi pasar. Ada yang menyebutnya ‘Santa Claus rally’. Menurut catatan Stock Trader’s Almanac, sejak 1950, S&P 500 rata-rata naik 1,3% dalam periode lima hari terakhir di Desember dan dua hari pertama di Januari.
Meski mayoritas sektor di S&P 500 menguat pada Jumat itu, tidak semuanya beruntung. Sektor utilitas dan barang konsumsi pokok justru terperosok. Tekanan terberat jelas terlihat pada saham Nike, yang anjlok lebih dari 10% setelah melaporkan margin laba yang terus menipis, didorong oleh penjualan yang lesu di China.
Bukan cuma Nike. Lamb Weston, pemasok kentang goreng beku, terpuruk hampir 26% karena memperkirakan permintaan yang lemah hingga akhir tahun fiskal. Conagra, si produsen Slim Jim, juga ikut merosot 2,5% setelah pendapatannya mengecewakan.
Dari sisi berita makro, ada secercah harapan. Data inflasi AS untuk November ternyata lebih rendah dari perkiraan, yang sedikit meredakan kecemasan investor. Tapi hati-hati, beberapa analis mengingatkan data Oktober bisa saja terdistorsi karena efek penutupan pemerintah yang sempat terjadi jadi mungkin saja gambaran ini tidak sepenuhnya akurat.
Saat ini, spekulasi di pasar masih kuat bahwa The Fed akan memotong suku bunga setidaknya dua kali tahun depan. Bahkan, menurut data LSEG, ada peluang sekitar 20% bahwa pemotongan pertama bisa terjadi lebih cepat, yaitu pada Januari nanti. Semua mata kini tertuju pada langkah bank sentral selanjutnya.
Artikel Terkait
Wall Street Melemah, Sektor Teknologi Tertekan oleh Kekhawatiran AI dan Data Pasar Tenaga Kerja
OJK Bentuk Satgas Reformasi Integritas Pasar Modal, Naikkan Batas Free Float Jadi 15%
IHSG Turun 0,53% ke 8.103,88, Mayoritas Sektor Terkoreksi
Rupiah Melemah ke Rp16.842 per Dolar Dihantam Sentimen Geopolitik Timur Tengah