Namun begitu, di Malaysia sendiri, rencana megah ini tidak lepas dari sorotan dan kritik.
Suara penolakan datang dari kalangan oposisi. Ketua oposisi Melaka, Yadzil Yaakub, secara terbuka mempertanyakan tujuan dan kelayakan proyek ini. Baginya, logika pendanaannya saja sudah bermasalah.
“Kenyataannya, belanja pemerintah Melaka sangat bergantung pada bantuan Putrajaya. Jika untuk memperbaiki jalan negara bagian saja kita memerlukan bantuan federal, bagaimana mungkin kita mendanai pembangunan jembatan yang melintasi Selat Malaka?” kata Yadzil.
Yadzil juga meragukan manfaat ekonominya. Dia menilai wilayah tujuan jembatan di Indonesia, yaitu Dumai, bukanlah pusat ekonomi utama. Alhasil, kemungkinan besar imbal hasil yang didapat Melaka nantinya akan sangat minim.
“Dan jika konsesi itu gagal, pemerintah pada akhirnya akan dipaksa menyelamatkan proyek tersebut dengan dana publik. Dalam semua skenario, rakyatlah yang menjadi korban,” tambahnya.
Jadi, meski di atas kertas terlihat menjanjikan dan sudah didukung studi awal, proyek jembatan penghubung dua negara ini masih harus melewati jalan panjang. Perdebatan antara potensi ekonomi dan beban finansial tampaknya akan terus menghangat.
Artikel Terkait
Harga Jual Emas Antam Stagnan, Harga Buyback Anjlok Rp80.000
Analis: Koreksi IHSG Belum Masuk Kategori Krisis Sistemik
Harga Minyak Jatuh 11% Usai Trump Tunda Serangan ke Iran
Wall Street Melonjak Usai Trump Tunda Ancaman Serangan ke Iran