Kabupaten Pohuwato di Gorontalo baru saja mendapat angin segar. Lewat sebuah nota kesepahaman, perusahaan kuliner Jepang, Chateraise, sepakat membeli kakao dari petani setempat. Kerja sama ini ditandatangani di halaman Balai Desa Makarti Jaya, Kecamatan Taluditi, Kamis lalu.
Rachmat Gobel, anggota DPR RI dari Gorontalo yang jadi inisiatornya, hadir langsung. Ia ingin petani tenang.
“Ini upaya kami untuk meningkatkan pendapatan dan membangun kemakmuran petani kakao di sini. Jadi yang beli sudah ada. Jangan khawatir,” ujar Gobel.
Chateraise sendiri cukup ternama di Jepang. Perusahaan ini dikenal dengan produk-produk premiumnya, mulai dari kue, cokelat, sampai es krim. Penandatanganan dilakukan oleh Wakil Bupati Pohuwato Iwan S Adam, bersama Direktur Chateraise Kenji Miyashita dan Jimmy Taher dari pihak yang sama.
Usai penandatanganan, Gobel berbincang langsung dengan para petani. Menurut Iwan S Adam, mayoritas penduduk di kawasan itu sekitar 95 persen memang menggantungkan hidup pada kakao. Di sisi lain, para petani punya harapan lain: perbaikan akses jalan. Itu kunci untuk memudahkan pengangkutan hasil panen mereka.
Namun begitu, rencana ke depannya lebih besar dari sekadar perkebunan. Gobel punya visi untuk mengubah kawasan ini.
“Nanti di sini bukan hanya jadi kawasan perkebunan, tapi juga akan dibangun menjadi desa wisata, yaitu sebagai kawasan agrowisata kakao dan coklat,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, saat ini sedang dirintis pembangunan 10 kawasan agrowisata, mencakup kacang tanah, pisang, kakao, bambu, dan kopi. Tahap pertama yang sedang berjalan adalah agrowisata kacang tanah di Tilihuwa, Kabupaten Gorontalo. Program ini nantinya akan disatukan dengan koperasi. Gobel mengajak para petani untuk bergabung dengan Koperasi Merah Putih.
Ini semua bukan tanpa alasan. Gorontalo masih tercatat sebagai salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Melalui program berbasis komunitas seperti agrowisata dan koperasi, Gobel berharap pemberdayaan masyarakat bisa berjalan lebih cepat. Tujuannya jelas: mengurangi angka kemiskinan.
Kerja sama dengan industri ternyata bukan yang pertama. Dua hari sebelumnya, Pemkab Gorontalo juga sudah menandatangani MoU serupa dengan Garudafood untuk penyerapan kacang tanah. Menurut Gobel, langkah ini strategis.
“Melalui perjanjian ini, jalur suplai dari petani ke industri jadi lebih pendek. Ekosistemnya akan lebih solid, hubungan petani dan industri lebih stabil, tanpa harus lewat tengkulak,” paparnya.
Selama ini, posisi petani dalam rantai pasok memang paling lemah. Jaringan pedagang dan tengkulak yang berjenjang, ditambah kelemahan permodalan serta sistem pergudangan, membuat mereka sangat rentan dalam menentukan harga. Akibatnya, banyak yang terjerat ijon dan utang. Itulah mengapa, kata Gobel, bergabung dengan koperasi menjadi penting.
“Yang terpenting bukan cuma masalah harga, tapi bagaimana pendapatan petani terus meningkat dan mereka jadi sejahtera,” tegasnya.
Acara hari itu ditutup dengan hal-hal simbolis. Gobel menyerahkan 2.500 bibit kakao premium dan melakukan penanaman bersama. Pagi harinya, ia bahkan sempat melepaskan burung maleo di Hutan Panua, Paguat. Burung endemik Sulawesi yang dilindungi ini kini paling banyak ditemui di Gorontalo dan Sulawesi Tengah.
Pelepasan maleo itu diharapkan bisa menyadarkan masyarakat untuk menjaga kelestariannya. Uniknya, burung ini hanya menghasilkan satu telur per musim bertelur. Mereka hidup di hutan, tapi bertelur di dekat pantai pada tanah berpasir. Dan yang menarik, maleo tidak mengerami telurnya sendiri.
Sehari penuh, dari bisnis hingga konservasi, semuanya berjalan beriringan.
Artikel Terkait
Airlangga Hartarto: Ekonomi Indonesia Tetap Solid di Tengah Gejolak Global, IMF Sebut sebagai Bright Spot
Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I-2026 Tembus 5,61 Persen, Tertinggi dalam Setahun Terakhir
Saham Nikel Tertekan, Pasar Cermati Rencana Pemerintah Terapkan Bea Keluar dan Windfall Tax
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.401 per Dolar AS, Tertekan Faktor Domestik