Penguatan pendidikan vokasi disebut-sebut sebagai salah satu langkah kunci pemerintah. Ini adalah bagian dari Strategi Baru Industrialisasi Nasional, atau SBIN, yang digaungkan Kementerian Perindustrian. Strategi ini sendiri fokus pada beberapa hal: meningkatkan nilai tambah, mendorong inovasi teknologi, dan tentu saja, mengarahkan transformasi industri ke arah yang lebih berkelanjutan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan hal tersebut. Baginya, ini adalah investasi untuk masa depan.
“Pendidikan vokasi adalah investasi untuk masa depan. Dengan SDM yang kompeten dan unggal, industri kita akan tumbuh lebih produktif, resilience, dan berdaya saing global,”
Demikian penjelasan Agus dalam sebuah keterangan, Kamis lalu. Pernyataan itu sekaligus menegaskan arah kebijakan mereka.
Di lapangan, upaya memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan industri terus digenjot. Caranya? Melalui standardisasi kompetensi, program pemagangan yang lebih masif, sertifikasi, serta modernisasi fasilitas belajar. Tujuannya jelas: agar lulusan yang dihasilkan benar-benar siap menjawab tantangan industri di masa mendatang.
Namun begitu, ambisi Kemenperin ternyata tak berhenti di dalam negeri. Mereka juga punya agenda 'vokasi go global'. Intinya, pendidikan kejuruan diarahkan agar memenuhi standar kompetensi internasional, melek teknologi maju, dan lincah beradaptasi dengan dinamika pasar global yang cepat berubah.
Nanti, kurikulum akan mengacu pada patokan industri internasional. Sertifikasi profesi pun di level global. Kemitraan dengan industri luar negeri akan diperluas, sekaligus memfasilitasi mobilitas tenaga kerja lintas negara.
“Model ini dirancang untuk mendukung Indonesia masuk ke rantai pasok global pada sektor-sektor strategis seperti semikonduktor, kecerdasan buatan, otomasi industri, energi hijau, serta manufaktur berkelanjutan,”
Jelas Agus Gumiwang lagi.
Di sisi lain, Doddy Rahadi, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin, memberikan penekanan yang sedikit berbeda. Menurutnya, penguatan vokasi ini adalah bagian sentral dari SBIN yang memang menitikberatkan pada penciptaan SDM industri berdaya saing tinggi. Sektor-sektor prioritas nasional saat ini, terangnya, sangat membutuhkan keterampilan baru yang relevan dengan teknologi mutakhir.
“Kita harus menjawab kebutuhan masa depan. Target pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi tidak mungkin tercapai kalau SDM-nya masih seperti dahulu. SDM harus produktif, terampil, kompeten, dan berorientasi global,”
Ujar Doddy.
Dia pun menegaskan satu hal penting. Pendidikan vokasi Indonesia jangan sampai hanya memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Ia harus bisa menjadi bagian dari ekosistem industri global, baik lewat keahlian teknis, mobilitas pekerja, maupun jaringan profesional yang kuat.
Komitmen ini bukan sekadar wacana. Beberapa unit pendidikan di bawah Kemenperin sudah mulai menjalankannya. Ambil contoh SMK-SMTI Yogyakarta. Sekolah ini telah menerapkan model pendidikan dual system, di mana porsi praktik mencapai 70 persen. Kurikulumnya pun disusun berdasarkan standar internasional, sebagai strategi untuk menyiapkan SDM industri yang unggul dan yang paling diharapkan langsung siap kerja.
Doddy menutup dengan penegasan.
“Kemenperin berkomitmen memperkuat pendidikan vokasi yang mampu melahirkan tenaga terampil yang relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi, termasuk industri 4.0.”
Terlihat jelas, langkah mereka sudah dirancang. Tinggal eksekusinya di lapangan yang akan membuktikan segala rencana ini.
Artikel Terkait
Pendapatan Cinema XXI Tembus Rp1,1 Triliun di Kuartal I-2026, Naik 18,2 Persen
Saham BRI Tertekan, Dirut Sebut Fundamental Solid dan Imbau Investor Fokus pada Dividen
Pemerintah Targetkan Program B50 Serap 1,9 Juta Tenaga Kerja pada 2026
ESSA Cetak Laba Bersih Melonjak 131 Persen di Awal 2026, Didorong Kenaikan Harga Amoniak