Dia menyebut ada tiga sumber masalah utama: tensi geopolitik yang meruak di berbagai kawasan, kebijakan tarif resiprokal AS di era Donald Trump yang transaksional, serta perlambatan perdagangan global. Kombinasi ini benar-benar mengguncang dunia.
“Ini benar-benar mengguncang perdagangan dunia, sehingga pertumbuhan ekonomi global itu dirasa akan merosot,” katanya.
Enrico memperkirakan gelombang ketidakpastian itu akan menekan ekspor tahun depan. Hubungan AS-China yang naik turun juga berpotensi memicu gejolak pasar. Meski demikian, dia menekankan bahwa fokus harus tetap pada penguatan ekonomi dalam negeri. Sinergi antara pemerintah dan perbankan mutlak diperlukan untuk menggeliatkan ekonomi berbasis domestik.
Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan kredit sekitar 9 persen dinilai masih realistis. Itu menurut Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbanas, Aviliani. Tapi dia mengingatkan satu hal penting: permintaan kredit sangat bergantung pada pendapatan masyarakat dan pelaku usaha.
Aviliani juga menyoroti tren yang patut diwaspadai. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sejak 2022 cenderung tertinggal di bawah pertumbuhan kredit.
“Jadi ini memang perbankan ke depan perlu berbagai kebijakan agar likuiditas tetap terjaga,” kata Aviliani.
Sebelumnya, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2025 akan berada di batas bawah kisaran 8-11 persen. Sementara itu, OJK mencatat intermediasi perbankan masih stabil hingga September 2025. Pertumbuhan kredit tercatat 7,70 persen, naik tipis dari Agustus, dengan nilai merangkak ke Rp 8.162,8 triliun. Angka-angka ini menjadi latar belakang yang menarik untuk melihat proyeksi optimis menuju 2026.
Artikel Terkait
DAAZ Gandeng Raksasa Global Garap Baterai Kendaraan Listrik
Harga Emas Antam Anjlok Rp260 Ribu per Gram dalam Sehari
Direktur BCA Borong Saham Rp2,1 Miliar di Tengah Kepanikan Pasar
Pefindo Beri Sinyal Hijau untuk DEWA, Tapi Ada Catatan di Baliknya