Survei terbaru dari Segara Institute memotret kebiasaan berutang masyarakat, khususnya mereka yang berpenghasilan pas-pasan. Riset ini digelar di 20 daerah, melibatkan lebih dari dua ribu responden dengan latar belakang yang beragam. Piter Abdullah, Executive Director lembaga tersebut, memaparkan detailnya.
“Itu memang dari sembarang usia sekitar 21 sampai 30 dan usia responden melayu-layu kakas muda yang berstatus belum kawin, tidak atau belum kawin itu 53 persen,” kata Piter di Seribu Rasa Menteng, Selasa (9/12).
Jadi, mayoritas respondennya adalah anak muda lajang. Profesi mereka pun beragam banget, mulai dari karyawan kantoran, pengelola UMKM, sampai pekerja lepas seperti driver ojek, sopir, atau content creator. Dari sisi pendidikan, kebanyakan tamatan SMA, meski di beberapa wilayah justru didominasi sarjana.
Gaji Kebanyakan Nggak Nyampe Lima Juta
Nah, soal penghasilan, gambaran ekonominya cukup jelas. Mayoritas responden punya pemasukan yang terbilang rendah.
“Penghasilan responden itu berkisar antara 0 sampai di bawah 5 juta, itu persentasenya yang terbanyak itu 65 persen,” kata Piter.
Yang berpenghasilan di atas Rp 10 juta cuma sekitar 2 persen. Pengeluaran? Hampir 87 persen responden juga menghabiskan di bawah Rp 5 juta per bulan. Tapi jangan salah, mismatch antara pemasukan dan kebutuhan tetap terjadi. Inilah realita sehari-hari: pendapatan kecil nggak otomatis bikin pengeluaran ikut mengecil. Celah inilah yang akhirnya mendorong orang untuk cari pinjaman.
Dalam Situasi Darurat, Ujung-ujungnya Balik ke Keluarga
Lalu, kemana mereka lari saat butuh dana cepat? Temuannya cukup menarik.
“Pilihan nomor satu itu adalah keluarga, ada 39,65 persen yang menyatakan ketika mereka mengalami mismatch mereka pinjemnya ke keluarga,” ujar Piter.
Posisi kedua ditempati oleh pinjol, disusul teman di urutan ketiga. Pilihan ini nggak mengherankan, karena pertimbangan utama mereka sederhana saja.
“Pertimbangan utamanya ternyata adalah kecepatan cair,” jelasnya.
Ya, dalam kondisi terdesak, yang dicari adalah dana yang bisa cair secepat kilat. Besaran bunga atau biaya administrasi? Itu urusan belakangan.
Berapa Sih Biasanya Mereka Minjam?
Besaran pinjamannya beragam sekali, dari yang cuma ratusan ribu sampai puluhan juta. Rata-rata pinjaman dari rentenir sekitar Rp 4 juta. Kalau lewat perusahaan pembiayaan, naik jadi Rp 7 juta. Pinjol? Rata-ratanya Rp 2,6 juta. Sementara itu, pinjaman bank bisa melambung hingga rata-rata Rp 50 juta dengan tenor paling panjang, ada yang sampai 180 bulan. Bandingkan dengan tenor pinjol atau rentenir yang biasanya singkat sekali.
Bunga Pinjol Ternyata Bisa Lebih Gila dari Rentenir
Ini yang bikin geleng-geleng. Ternyata, bunga riil pinjol bisa aja lebih tinggi daripada rentenir! Kenapa? Salah satunya karena masyarakat sering nggak bisa bedain mana pinjol legal dan ilegal.
“Yang menarik adalah pindar ada yang lebih tinggi daripada rentenir,” kata Piter.
Secara umum, bunga riilnya berjebar dari 0,02 persen sampai yang fantastis: 16,7 persen per bulan. Meski bunga bank jelas lebih rendah dan ringan, masyarakat ogah menjadikannya pilihan pertama. Alasannya klasik: prosesnya lama dan syaratnya ribet. “Yang dicari sama masyarakat itu cepat cair mudah,” terang Piter. Makanya, pinjol dan keluarga lebih diminati ketimbang bank, koperasi, atau pegadaian.
Mitos Potongan Pinjaman
Selama ini beredar kabar soal pemotongan besar-besaran pada pinjaman daring. Menurut riset ini, mitos itu nggak terbukti secara statistik. Mayoritas responden mengaku menerima dana sesuai jumlah yang diajukan.
“Kita tidak menemukannya supaya tidak mendapatkan bukti yang cukup kuat secara statistik,” ujar Piter.
Meski bunganya memberatkan, kebanyakan responden ternyata tetap berusaha bayar kewajibannya. Tingkat kelancaran bayar di bank atau perusahaan resmi bahkan mencapai 80 persen. Piter menduga, kedisiplinan bayar ke rentenir juga dipengaruhi faktor kedekatan sosial. Rentenir di pasar tradisional, misalnya, punya hubungan baik dengan pelanggannya.
Kesimpulannya, perilaku berutang masyarakat lebih didorong oleh kebutuhan mendesak. Logika biaya dan bunga seringkali dikesampingkan. Asal dananya cepat cair, mereka akan ambil, meski harus berhadapan dengan bunga pinjol atau rentenir yang selangit.
Artikel Terkait
Indonet Tunjuk Donauly Elena Situmorang sebagai Direktur Utama, Gantikan Andrew Rigoli
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Saham Logistik Baru IPO Justru Melonjak 94%
Harga Emas Batangan di Pegadaian Stagnan, Antam Bertahan di Rp2,918 Juta per Gram
IHSG Anjlok 6,6 Persen dalam Sepekan, BREN dan DSSA Jadi Top Losers dengan Koreksi Lebih dari 30 Persen