"Pada PBV 2,64x, Superbank adalah salah satu bank digital dengan valuasi termurah di pasar. Jika dibandingkan dengan ARTO, BBHI, atau Aladin yang PBV-nya jauh lebih tinggi, maka secara valuasi Superbank berada pada level yang sangat menarik bagi investor,” ujarnya.
Menurutnya, posisi valuasi yang rendah ini justru membuka peluang rerating di masa depan. Apalagi jika Superbank sukses mengeksekusi strategi pertumbuhannya dan memaksimalkan ekosistem digital yang sudah dimiliki.
“Bank digital biasanya diperdagangkan dengan premi karena ekspektasi pertumbuhan yang besar. Namun Superbank saat ini justru berada di valuasi konservatif. Ini memberi peluang bagi investor yang ingin masuk lebih awal sebelum valuasinya menyesuaikan dengan kinerja dan ekspansi,” tutur Bernadus.
Jadi, kalau dirangkum, kombinasi inilah yang membuat Superbank menonjol: valuasi rendah, dukungan ekosistem kuat, strategi kredit yang agresif, plus rencana belanja modal jangka panjang yang terstruktur. Banyak yang menyebutnya sebagai kandidat bank digital yang berpotensi undervalued saat IPO.
Sekarang, bola ada di tangan manajemen. Pasar akan mengawasi dengan saksama bagaimana eksekusi penggunaan dana IPO itu benar-benar mendorong pertumbuhan bisnis. Dan tentu saja, semua penantian bermuara pada satu pertanyaan: akankah valuasi Superbank mulai mengejar ketinggalannya dari bank digital lain yang sudah lebih dulu mahal?
Kita lihat saja perkembangannya.
Artikel Terkait
BRI Salurkan Kredit Rp4 Triliun ke Dua Anak Usaha Golden Energy Mines
GEMA Gelar Buyback Saham Senilai Rp2 Miliar hingga 2026
Anggaran Program Makan Bergizi Gratis 2026 Belum Dipangkas Pemerintah
IHSG Anjlok 1,61%, Sentimen Jual Dominasi Pasar