IHSG Tembus Rekor, Tapi Ancaman Dolar Masih Mengintai

- Jumat, 05 Desember 2025 | 13:15 WIB
IHSG Tembus Rekor, Tapi Ancaman Dolar Masih Mengintai

IHSG kembali melesat! Pagi tadi, Jumat (5 Desember 2025), Indeks Harga Saham Gabungan mencatatkan rekor baru yang fantastis di level 8.689. Pencapaian all time high ini seperti angin segar, mengusir bayang-bayang pelemahan ke area 8.500 yang terjadi hanya dua hari sebelumnya.

Namun begitu, euforia ini ternyata dibayangi sebuah kekhawatiran. Farras Farhan, analis dari Mirae Asset Sekuritas, mengingatkan soal tekanan dolar terhadap rupiah yang masih mengintai. Sentimen pasar global, terutama yang berkaitan dengan kebijakan bank sentral AS, jadi biang keroknya.

"Meskipun pasar saham menunjukkan kekuatan, nilai tukar USD/IDR melemah menjadi 16.651,4," ujar Farras pada Jumat itu.

Menurutnya, pelemahan rupiah itu tak lepas dari dolar yang menguat secara global. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari kebutuhan korporasi yang meningkat, daya tarik imbal hasil Indonesia yang berkurang, hingga ketegangan jelang rapat penting The Fed. Nah, rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 9-10 Desember itulah yang jadi sorotan utama semua orang.

Di sisi lain, data perdagangan Kamis kemarin cukup menarik. Pantauan di BEI menunjukkan, investor asing masih mencatatkan net-buy senilai Rp1,7 triliun. Tapi rupanya, mereka sedang mengambil untung dari saham-saham besar seperti BBCA dan BBRI. Aliran dana asing justru mengalir deras ke saham-saham seperti UNTR, ASII, dan BMRI.

Farras juga menyoroti dua hal: kebutuhan dolar yang biasanya membesar di akhir tahun, serta net-sell asing yang meski moderat, tetap membuat pelaku pasar waspada. Kombinasi ini bikin situasi di pasar uang dan pasar modal terasa sedikit genting.

Lalu, apa yang diharapkan dari The Fed? Pasar hampir yakin, tepatnya 89,2% kemungkinan, bahwa suku bunga AS akan dipangkas 25 basis poin. Keputusan yang bakal diumumkan pekan depan itu dinanti-nanti.

"Ekspektasi ini juga mendukung harga emas, dan berpotensi mengangkat indeks saham AS dan Asia," tambah Farras.

Jadi, meski IHSG meroket ke rekor tertinggi, napas panjang masih diperlukan. Semua mata kini tertuju ke Washington, menunggu keputusan yang bisa mengubah arah angin dalam sekejap.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar