Meski paparan dari PT PMT waktu itu melalui udara, Sabbat bersikukuh. Pemeriksaan harus menyeluruh. "Bahan baku yang masuk harus dicek, produk yang keluar juga. Titik kritisnya memang di smelter," ujarnya menegaskan.
Langkah pengawasan ternyata tak cuma di pabrik. Pemerintah juga mulai beraksi di pintu-pintu masuk negara. Beberapa pelabuhan yang menerima kargo impor, seperti Tanjung Priok, sudah dilengkapi dengan RPM. Hasilnya? Ada temuan.
Bara Krishna Hasibuan dari Satgas Cs-137 membenarkan hal itu. "Kami sudah empat kali mendeteksi pengiriman zinc powder yang terkontaminasi di Priok," katanya.
"Alarm RPM menyala, lalu tim Bapeten melakukan pemeriksaan lanjutan. Ternyata positif mengandung Cesium. Akhirnya, barang-barang itu kami kembalikan saja ke negara asalnya, Filipina dan Angola. Prosesnya sudah berjalan," jelas Bara.
Jadi, upaya mencegah masuknya material radioaktif kini diperketat. Dari pelabuhan hingga ke jantung industri peleburan, alat monitor radiasi akan menjadi penjaga pertama. Semoga saja langkah ini cukup ampuh menangkal risiko yang tak kasat mata itu.
Artikel Terkait
Transkon Jaya Tarik Pinjaman Rp25 Miliar dari Induk Perusahaan
DAAZ Gandeng Raksasa Global Garap Baterai Kendaraan Listrik
Harga Emas Antam Anjlok Rp260 Ribu per Gram dalam Sehari
Direktur BCA Borong Saham Rp2,1 Miliar di Tengah Kepanikan Pasar