Asing Borong Saham Emas dan Batu Bara Meski IHSG Tertekan

- Rabu, 18 Maret 2026 | 09:15 WIB
Asing Borong Saham Emas dan Batu Bara Meski IHSG Tertekan

Pasar saham lagi bergejolak, tapi ada yang menarik. Di tengah gempuran aksi jual investor asing yang bikin IHSG terkapar, beberapa saham malah kebanjiran order beli dari luar negeri. Uniknya, mayoritas berasal dari sektor lama: emas dan batu bara.

Ambil contoh Selasa kemarin (17/3). IHSG memang ditutup menguat 1,2%, tapi jangan salah. Neraca transaksi asing justru merah darah, dengan net sell mencapai Rp679 miliar lebih. Secara tahun berjalan, pelepasan asing bahkan sudah menembus Rp8,51 triliun. Tekanan jelas masih ada.

Namun begitu, di tengah arus deras jual itu, beberapa saham jadi favorit asing. Puncaknya adalah Merdeka Gold Resources (EMAS). Saham emiten emas ini kebeli bersih Rp727,82 miliar oleh asing, dan harganya melesat 4,68% ke level Rp9.500.

Di sisi lain, Adaro (AADI) juga tak kalah menarik. Meski pasar sedang tak menentu, saham batubara ini masih mampu mencatat net buy asing Rp113,64 miliar, dengan kenaikan harga 1,45%. Telkom (TLKM) menyusul di posisi ketiga dengan nilai beli bersih Rp73 miliar.

Lalu ada Indo Tambangraya (ITMG) dan Archi Indonesia (ARCI) yang melengkapi daftar. Yang menarik, ARCI tetap dibeli asing Rp53,99 miliar meski harganya terkoreksi cukup dalam, 5,33%. Ini menunjukkan minat yang kuat.

Nah, soal prospek, Mirae Asset Sekuritas lewat analis Nafan memberi sinyal positif untuk dua saham tadi. Untuk AADI, mereka punya tiga target harga: Rp10.575, Rp10.900, dan yang optimis di Rp12.000.

“Fundamental AADI kuat. Mereka bisa cetak laba tebal bahkan saat harga batubara dunia cuma ada di kisaran US$100 - US$120 per ton,” jelas Nafan.

Kedua, ARCI juga direkomendasikan. Target harganya berturut-turut Rp1.880, Rp2.020, dan Rp2.490. Lonjakan harga emas global yang tembus rekor di atas US$5.000 per ons awal tahun ini jadi angin segar bagi margin perusahaan.

“Setiap kenaikan harga emas langsung tercermin pada pendapatan dan laba bersih perusahaan,” tambahnya.

Tapi Nafan mengingatkan, beli asing yang selektif ini belum cukup buat dongkrak IHSG secara keseluruhan. Secara teknikal, dia memprediksi dua skenario: positifnya IHSG bisa uji level 8.394, tapi kalau negatif, malah berpotensi sentuh 6.746.

Menurutnya, sentimen pasar sekarang lebih didikte kondisi fiskal dan geopolitik global yang ruwet. Langkah BI pertahankan suku bunga di 4,75% diapresiasi, begitu pula keputusan pemerintah menahan defisit APBN.

“Kalau ke depan pemerintah konsisten dengan kebijakan yang pro-pasar, capital inflow pasti akan mengalir ke sini. Tapi BEI dan OJK juga harus dorong reformasi pasar modal secara menyeluruh,” tandas Nafan.

Perlu diingat, informasi ini bukan ajakan beli atau jual. Keputusan investasi ada di tangan Anda. Lakukan analisis mendalam sebelum bertindak.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler