Harga pupuk tahun ini disebut-sebut jadi yang terendah dalam catatan sejarah. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyebut penurunannya bisa mencapai 20 persen sepanjang 2025. Kabar baik ini, rupanya, ingin dipertahankan pemerintah ke depan.
Usai menggelar Rapat Koordinasi Terbatas soal Stabilitas Harga dan Pasokan Jagung, Selasa (2/12), Zulhas sapaan akrabnya membocorkan rencana alokasi untuk tahun depan. “Nah, tahun depan kita cadangkan ada tetap 9,5 juta cadangan untuk pertanian,” ujarnya. Tak lupa, sektor perikanan juga tak dilewatkan. “Dan tadi juga dari perikanan 259 ribu ton ya,” tambahnya. Nilai anggarannya? Sekitar Rp 46 triliun.
Angka itu sejalan dengan yang tercantum dalam RAPBN 2026. Presiden Prabowo Subianto mengalokasikan subsidi pupuk sebesar Rp 46,874 triliun. Kalau dibandingin dengan outlook tahun 2025 yang Rp 44,15 triliun, anggaran tahun depan lebih tinggi sekitar Rp 2,71 triliun.
Di sisi lain, pemerintah tampaknya serius ingin memperbaiki sistem penyalurannya. Rencananya, akan ada penyempurnaan kebijakan agar subsidi benar-benar tepat sasaran. Caranya? Dengan verifikasi dan validasi data petani penerima yang lebih ketat. Data dari dukcapil, sensus pertanian, hingga regsosek akan dipadankan untuk meminimalisir penyimpangan. Subsidi juga akan difokuskan pada komoditas prioritas.
Persiapan untuk musim tanam mendatang pun sudah dimulai lebih awal. Kementerian Pertanian, misalnya, telah menyiapkan stok pupuk bersubsidi sebanyak 1,2 juta ton untuk periode Oktober 2025 hingga Maret 2026. Jumlah itu jauh di atas ketentuan minimum bahkan mencapai 259 persen dari yang dipersyaratkan. Buat jaga-jaga, tersedia juga pupuk non-subsidi sekitar 480 ribu ton buat petani yang kebutuhan nya di luar alokasi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sendiri menyatakan kesiapannya untuk merevitalisasi pabrik pupuk. Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden. Tujuannya jelas: produksi lebih efisien, pasokan stabil, dan yang paling penting, harga tetap terjangkau buat petani kecil.
“Revitalisasi pabrik pupuk akan kami dorong agar produksi lebih efisien, pasokan lebih stabil, dan harga lebih terjangkau bagi petani,” tegas Amran dalam sebuah keterangan tertulis, Sabtu (18/10).
“Ini sejalan dengan semangat besar pemerintah untuk mencapai swasembada pangan,” pungkasnya.
Jadi, anggaran subsidi non-energi dalam RAPBN 2026 naik jadi Rp 108,825 triliun. Naik sekitar Rp 4,57 triliun dari tahun sebelumnya. Pupuk, tentu saja, jadi bagian penting di dalamnya. Semua kebijakan ini bermuara pada satu harapan: ketahanan pangan nasional yang lebih kokoh.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Tolak Pinjaman IMF-Bank Dunia USD 30 Miliar, Andalkan Cadangan Negara
Petrosea Lepas Saham Kemilau Mulia Sakti Rp1,73 Triliun demi Fokus Bisnis Inti
Dharma Polimetal Bagikan Dividen Rp329,41 Miliar dari 50% Laba Bersih 2025
Wall Street Bangkit Didorong Optimisme AI dan Laporan Keuangan Kuat