Pergerakan saham PANI dan CBDK belakangan ini ibarat tarik tambang. Satu melemah, satunya melesat. Perbedaan arah ini makin jelas setelah emiten properti itu kembali mengubah detail rights issue-nya, sebuah langkah yang langsung dibalas pasar dengan aksi jual.
Data BEI menunjukkan, saham PANI sempat anjlok 3,92 persen pada Senin (1/12). Meski sempat rebound tipis ke Rp13.700 di sesi Selasa (2/12), secara mingguan saham induk perusahaan ini masih terpangkas 1,44 persen.
Berbanding terbalik, saham anak usahanya, CBDK, justru melonjak 7,33 persen dalam sehari. Bahkan, dalam sepekan terakhir, saham yang masuk dalam lingkup bisnis Aguan dan Grup Salim ini sudah naik fantastis, 37 persen.
Menurut pengamat pasar modal Michael Yeoh, sentimen negatif itu dipicu revisi harga pelaksanaan rights issue PANI.
“Hal ini cukup mengecewakan investor tercermin dari aksi sell off setelah pengumuman revisi harga rights issue,” ujarnya.
Namun begitu, Michael menilai koreksi ini lebih sebagai respons sesaat. Bukan pertanda fundamental atau valuasi perusahaan yang berubah.
Lalu, kenapa CBDK justru meroket? Rupanya, ada aliran dana besar yang jadi kuncinya.
“Diketahui, penggunaaan hasil rights issue ini sebagian akan digunakan untuk mengakuisisi 41 persen saham CBDK. Maka, jika rights issue ini terserap oleh pasar, akan ada inflow sebesar 41 persen dikalikan Rp16 triliun atau kisaran Rp6,4 triliun. Sementara saat ini free float dari CBDK saja berkisar di Rp3,9 triliun,” papar Michael.
Dengan potensi aliran dana segitu besarnya, wajar kalau CBDK bergerak lebih agresif. Dari kacamata teknikal, Michael melihat prospek CBDK masih bagus. “CBDK berpotensi menuju angka Rp10.000 berdasar base ascending triangle consolidation yang memiliki neckline support di Rp7.500,” imbuhnya.
Sebelumnya, PANI memang mengubah jadwal rights issue-nya. Aksi korporasi raksasa ini rencananya digelar 12-18 Desember 2025, dengan potensi menghimpun dana hingga Rp15,7 triliun. Tergantung partisipasi pemegang saham publik.
Perubahan lain ada pada jumlah dan harga saham. Perusahaan menaikkan jumlah saham baru yang ditawarkan jadi 1,21 miliar saham. Di sisi lain, harga pelaksanaannya justru dipangkas jadi Rp12.975 per saham, turun 3,7 persen dari harga sebelumnya Rp15.000.
Nah, soal potensi dana yang bisa dikumpulkan, analisis dari Stockbit memberi gambaran. Skemanya bergantung pada eksekusi rights oleh publik.
Jika publik tak melaksanakan sama sekali, PANI bisa dapat sekitar Rp13,8 triliun untuk beli 37,77 persen saham CBDK. Partisipasi minimal 68,4 persen akan mendongkrak dana menjadi Rp15,1 triliun guna akuisisi 41,37 persen saham CBDK.
Skenario terbaik, jika semua pemegang saham publik melaksanakan haknya, dana bisa mencapai Rp15,7 triliun. Dana ini tak hanya untuk menambah porsi di CBDK jadi 41,37 persen, tapi juga untuk penyertaan modal di tiga anak perusahaan PANI.
Yang menarik, dalam kedua skenario pembelian CBDK itu, harga akuisisinya konsisten di level Rp6.450 per saham. Pemegang saham pengendali, PT Multi Artha Pratama (MAP), sudah berkomitmen mengeksekusi 36,21 persen haknya, bahkan bisa ditambah. Jauh lebih jelas ketimbang komitmen samar-samar di dokumen sebelumnya.
Untuk jaga-jaga, BCA Sekuritas dan Trimegah Sekuritas Indonesia siap membeli sisa saham baru hingga 228,7 juta saham. Sebuah langkah antisipasi agar rights issue ini tetap berjalan.
Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Investor Asing Lepas Saham Rp2,4 Triliun, IHSG Justru Naik 2,35%
BFIN Alokasikan Seluruh Saham Treasuri untuk Program MESOP Karyawan
CIMB Niaga Bagikan Dividen Tunai Rp4,07 Triliun pada Mei 2026
Pemegang Saham Setujui Stock Split 1:2 Saham ITSEC Asia