“Bisnis pembiayaan kendaraan bermotor BRI akan mendorong perusahaan anak untuk bersinergi. Terkait auto loan kita akan terus bangun BRI Finance bahu membahu dengan BRI membangun bisnis KKB,”
ungkap Hery dalam paparannya.
Lalu, bagaimana dengan bisnis bullion service? Menurut Hery, pegadaian yang sudah memiliki jaringan 4.000 cabang di seluruh Indonesia baru saja meluncurkan super app bernama Tring. Layanan ini dirancang untuk memudahkan konsumen membeli emas secara digital, sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi diversifikasi bisnis BRI.
Hingga penutupan Triwulan III 2025, angka-angka yang ditorehkan BRI terbilang menggembirakan. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh solid 8,2% secara year-on-year, menjadi Rp 1.474,8 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh dana murah (CASA) yang terus menguat. Di sisi penyaluran kredit, terjadi kenaikan 6,3% YoY menjadi Rp 1.438,1 triliun. Semua perbaikan fundamental ini berujung manis: Laba bersih BRI tercatat sebesar Rp 41,2 triliun.
“Kinerja BRI tidak hanya tumbuh secara sehat, tetapi juga merefleksikan keberpihakan nyata terhadap sektor produktif dan ekonomi rakyat. BRI akan terus memperkuat fundamental bisnis dengan menjaga kualitas aset, meningkatkan efisiensi pendanaan, serta memperdalam transformasi yang dijalankan secara terstruktur dan terintegrasi melalui BRIVolution Reignite,”
pungkas Hery menutup pembahasan.
Artikel Terkait
Ramadan 2026 Diprediksi Picu Gelombang Pinjol, OJK Waspadai Dominasi Kredit Konsumtif
Pemulihan SPBU Aceh Tembus 97 Persen Pascabencana
Di Balik Kenaikan IHSG, Sepuluh Saham Ini Justru Terjun Bebas
BEI Dibanjiri Emisi Baru, IHSG Nyaris Sentuh 9.000 di Awal 2026