Timah Bersinar di Tengah Pelemahan Minyak dan Nikel

- Jumat, 21 November 2025 | 08:06 WIB
Timah Bersinar di Tengah Pelemahan Minyak dan Nikel

Pasar komoditas Kamis kemarin (20/11) tampak berwarna-warni, dengan beberapa komoditas utama justru melemah. Minyak mentah, CPO, dan nikel tercatat mengalami tekanan jual. Di sisi lain, timah justru merangkak naik, sementara batu bara bertahan di posisinya.

Minyak Mentah Kehilangan Momentum

Harga minyak malah turun di tengah upaya perdamaian yang digaungkan pemerintahan Donald Trump. Ia mendorong Ukraina untuk menerima kesepakatan dengan Rusia, yang konfliknya sudah berjalan lebih dari tiga tahun. Padahal, sebelumnya sempat ada angin segar. Laporan dari Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah yang lebih tajam dari perkiraan, yang sempat mendorong penguatan harga di sesi awal.

Namun begitu, sentimen positif itu buyar. Usulan perdamaian AS–Rusia itu disebut-sebut mencakup hal-hal yang sebelumnya selalu ditolak mentah-mentah oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, seperti penyerahan sebagian wilayah dan pengurangan kekuatan militernya.

Zelenskiy sendiri pada hari itu mengatakan akan mempelajari usulan tersebut dan akan berkonsultasi lebih lanjut dengan Amerika.

Akibatnya, kontrak berjangka Brent harus tutup melemah 0,2 persen ke level USD 63,38 per barel. Sementara itu, kontrak WTI AS anjlok lebih dalam, 0,5 persen, menjadi USD 59,14 per barel.

Batu Bara: Diam di Tempat

Sementara komoditas energi lain bergerak, batu bara justru diam. Harganya stagnan, tetap bertengger di level USD 111 per ton.

CPO dan Nikel Ikut Tertekan

Nasib serupa dialami minyak kelapa sawit atau CPO. Komoditas andalan ini tercatat turun cukup signifikan, 1,68 persen, menjadi MYR 4.155 per ton.

Nikel pun tak ketinggalan. Di London Metal Exchange (LME), logam industri ini merosot 1,02 persen, dengan harga akhir perdagangan berada di USD 14.501 per ton.

Timah, Satu-Satunya Cahaya Terang

Di tengah pelemahan yang melanda, timah muncul sebagai pengecualian. Harganya justru menguat 0,31 persen. Berdasarkan data LME, logam ini ditutup pada harga USD 37.068 per ton, memberikan sedikit kelegaan di antara lautan merah.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar