Inalum Ajukan Entitas Baru untuk Dongkrak Smelter Mempawah 600.000 Ton

- Kamis, 20 November 2025 | 15:36 WIB
Inalum Ajukan Entitas Baru untuk Dongkrak Smelter Mempawah 600.000 Ton
Inalum Usulkan Anak Perusahaan Baru untuk Smelter Mempawah

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) sedang mengajukan permohonan dukungan. Mereka membutuhkan bantuan dari Danantara Indonesia dan BP BUMN untuk mendirikan anak perusahaan baru. Ini bukan rencana sembarangan.

Anak perusahaan ini punya tugas besar: mengelola proyek New Smelter Aluminium di Mempawah, Kalimantan Barat. Bayangkan, kapasitas produksinya ditargetkan mencapai 600.000 ton aluminium per tahun. Jumlah yang sangat signifikan.

Menurut Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, perusahaan memang sedang mendorong pembentukan sebuah joint venture. “Kami mungkin nanti harus meminta dukungan dari Danantara dan juga BP BUMN,” ujarnya dalam Rapat Komisi VI DPR, Kamis (20/11). Dukungan itu dibutuhkan untuk pendirian anak perusahaan baru dan perusahaan patungan yang terkait langsung dengan proyek smelter ini.

Lalu, kenapa harus bikin perusahaan baru? Melati punya alasan yang kuat. Menurutnya, langkah ini sangat krusial untuk memproses pembiayaan proyek atau project financing. “Ini sangat penting sekali prosesnya buat kami,” tegasnya. Nantinya, Inalum berencana menggandeng mitra strategis dalam joint venture tersebut.

Proyek ambisius ini sudah punya timeline yang jelas. Commercial operating date (COD) ditargetkan pada 2029. Rencananya, tahun 2026 akan masuk tahap Final Investment Decision (FID), dilanjutkan dengan fase Engineering, Procurement, and Construction (EPC) sepanjang 2026-2028. Baru setelah itu commissioning di 2029.

Namun begitu, ide pendirian anak perusahaan ini tidak serta merta disambut hangat. Wakil Ketua Komisi VI DPR, Nurdin Halid, mempertanyakannya. Ia heran, di saat Danantara justru fokus pada efisiensi dan perampingan jumlah BUMN yang saat ini mencapai 1.040 perusahaan, kenapa justru ada usulan untuk menambah entitas baru? “Kenapa mesti ada ide Inalum mendirikan anak usaha?” tanya Nurdin.

Menjawab kekhawatiran itu, Melati memberikan penjelasan lebih lanjut. Selain untuk kepentingan pembiayaan, pendirian anak perusahaan juga menjadi strategi mitigasi risiko bisnis. Pasalnya, saat ini kepemilikan saham Inalum masih 100 persen di tangan pemerintah. “Kita membutuhkan ring fencing joint venture tersebut dari eksisting bisnis kita,” ungkapnya. Dengan memisahkan JV smelter, monitoring performa bisnis akan jadi lebih gampang.

Ia juga memastikan bahwa ide ini sudah dibahas dengan Danantara. Pembicaraan ini berjalan beriringan dengan rencana Danantara untuk masuk dalam proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR), dengan injeksi modal sekitar USD 192 juta. “Saat ini kita masih diskusi,” jelas Melati. “Support sebenarnya masih ongoing discussion, termasuk USD 192 juta itu masih pakai asumsi 15 persen partisipasi di proyek.”

Sebagai informasi, Inalum yang merupakan anggota holding BUMN pertambangan MIND ID saat ini telah memiliki empat anak perusahaan. Di antaranya adalah PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) dengan kepemilikan saham 60 persen yang mengelola proyek smelter alumina. Lalu ada PT Indonesia Aluminium Alloy (99,99 persen) yang bergerak di produk secondary aluminium.

Tak hanya itu, mereka juga punya afiliasi di PT Sinergi Mitra Lestari Indonesia (25 persen) yang fokus pada waste management dan logistik. Terakhir, ada kepemilikan 33,75 persen saham di PT Indonesia Battery Corporation (IBC). Jadi, usulan anak perusahaan baru ini akan menjadi tambahan dalam portofolio mereka.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar