Archi Indonesia Kantongi Pinjaman Sindikasi USD 421 Juta, Prospek Emas Kian Bersinar

- Kamis, 20 November 2025 | 10:35 WIB
Archi Indonesia Kantongi Pinjaman Sindikasi USD 421 Juta, Prospek Emas Kian Bersinar

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) baru saja mengantongi suntikan dana segar yang cukup besar. Perusahaan tambang emas ini berhasil mengamankan pinjaman sindikasi bernilai jumbo, di saat analis sekuritas justru memberikan proyeksi kinerja yang cukup cerah untuk masa depannya.

Lonjakan harga emas global belakangan ini benar-benar memberi angin bagus. Ditambah lagi dengan potensi peningkatan produksi dalam dua tahun mendatang, prospek ARCI kian kuat. Menurut keterbukaan informasi yang dirilis Rabu (19/11/2025), ARCI bersama entitas anaknya mendapat fasilitas pinjaman sindikasi yang dipimpin oleh Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Syariah Indonesia (BRIS). Totalnya mencapai USD421 juta plus Rp475 miliar, dengan opsi tambahan accordion hingga Rp50 juta. Dana ini rencananya akan dipakai untuk kebutuhan umum perusahaan. Tapi, usai penarikan fasilitas ini, rasio utang terhadap ekuitas ARCI naik dari sekitar 1,09x menjadi 1,35x.

Di sisi lain, UOB Kay Hian dalam riset terbarunya tanggal 14 Oktober 2025 justru meningkatkan proyeksi kinerja ARCI. Alasannya sederhana: harga emas bergerak jauh lebih kuat dari perkiraan awal, dan prospek produksi mereka terlihat makin solid. Sekuritas ini bahkan menaikkan asumsi harga emas untuk dua tahun ke depan, sekaligus memperbarui outlook laba perusahaan.

Untuk 2025, UOB Kay Hian mematok asumsi harga emas rata-rata USD3.400 per troy ons. Tahun berikutnya, 2026, naik jadi USD3.800 per ons. Angka ini jelas lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya yang cuma USD3.200 dan USD3.400. Mereka juga merevisi proyeksi produksi, seiring ekspektasi kontribusi lebih besar dari pit Araren. Total produksi ARCI diperkirakan mencapai 120.000 ons di 2025, lalu naik ke 131.000 ons di 2026. Dengan penyesuaian ini, laba bersih ARCI diproyeksikan tembus USD105 juta pada 2025 dan melonjak ke USD146 juta pada 2026.

Revisi naik ini tentu bukan tanpa alasan. Harga emas global sendiri sudah menembus rekor baru, bahkan melampaui level USD4.000 per ons. Minat investor global terhadap aset safe haven ini memang sedang menguat. Didorong oleh pembelian berkelanjutan dari bank sentral dan investor ritel, plus likuiditas pasar yang masih longgar jelang pemangkasan suku bunga The Fed. Partisipasi investor China juga ikut melonjak, terlihat dari naiknya stok emas di Shanghai Futures Exchange (SHFE) dalam dua bulan terakhir. Belum lagi kekhawatiran soal potensi shutdown pemerintahan AS dan tensi dagang AS-China yang memanas semua ini menambah sentimen positif terhadap emas.

Yang menarik, UOB Kay Hian juga menyoroti peluang ARCI untuk masuk ke dalam indeks global VanEck Gold Miners ETF. Peluang ini muncul setelah Basis Utama Prima melepas seluruh kepemilikannya di ARCI, yaitu 6,1 persen, per 30 September 2025. Free float ARCI kini sekitar 15 persen, sehingga sudah memenuhi salah satu syarat utama masuk ETF global tersebut. Selain free float minimal 10 persen, emiten juga harus punya kapitalisasi pasar di atas USD150 juta, nilai transaksi rata-rata tiga bulan minimal USD1 juta per hari, volume perdagangan bulanan di atas 250.000 saham selama enam bulan, dan pendapatan dari operasi emas atau perak harus lebih dari 50 persen dari total pendapatan.

UOB sendiri sudah memperbarui proyeksi harga emas global dalam laporan riset ekonominya untuk kuartal IV-2025. Mereka mematok estimasi USD3.700 per troy ons untuk kuartal tersebut, lalu naik bertahap hingga USD4.000 per troy ons pada kuartal III-2026.

Dengan semua pembaruan ini, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi "beli" untuk ARCI. Mereka bahkan menaikkan target harga menjadi Rp2.050 per saham, dari sebelumnya yang cuma Rp1.280. Valuasi ini menggunakan EV/EBITDA untuk tahun buku 2026 sebesar 9,8 kali, merujuk pada rata-rata tiga tahun. Menurut UOB, ARCI menarik karena punya prospek pertumbuhan laba yang kuat dalam tiga tahun ke depan, peluang penambahan cadangan, serta potensi monetisasi tambang bawah tanah.

Tentu, sekuritas ini juga mencatat sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Mulai dari potongan keterlambatan proyek, gangguan operasional karena bencana alam, ketidakpastian regulasi, hingga volatilitas harga komoditas. Namun begitu, dengan revisi naik proyeksi laba 2025-2026 sebesar 17-38 persen, prospek ARCI tetap dinilai menjanjikan.

Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar