Kinerja Emiten 9M 2025: Sektor Defensif Jadi Pemenang, Sektor Siklikal Tertinggal

- Senin, 17 November 2025 | 07:50 WIB
Kinerja Emiten 9M 2025: Sektor Defensif Jadi Pemenang, Sektor Siklikal Tertinggal
Analisis Kinerja Emiten 9M 2025: Sektor Defensif Unggul, Siklikal Tertinggal

Laporan Kinerja Emiten 9M 2025: Pemulihan Masih Terfragmentasi, Sektor Defensif Jadi Penopang

RHB Sekuritas baru saja merilis riset terbaru mengenai performa emiten Indonesia sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Hasilnya menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi masih berjalan tidak merata di berbagai sektor.

Data mengungkapkan bahwa hanya 35 persen sektor yang berhasil melampaui ekspektasi kinerja. Sebanyak 29 persen lainnya bergerak sesuai dengan proyeksi awal, sementara 35 persen sisanya tercatat tertinggal dari perkiraan.

Sektor Defensif Jadi Pemenang Utama

Kelompok sektor defensif tampil sebagai penopang utama pertumbuhan. Sektor-sektor seperti perunggasan, kesehatan, tembakau, teknologi, dan konsumsi riil menunjukkan ketahanan yang kuat. Kinerja positif ini didorong oleh beberapa faktor kunci, termasuk dukungan kebijakan pemerintah, permintaan domestik yang stabil, serta tren pelemahan tekanan biaya produksi.

Tantangan Berat di Sektor Siklikal

Berbanding terbalik dengan sektor defensif, kelompok siklikal masih menghadapi tantangan berat. Sektor telekomunikasi, semen, energi terbarukan, dan ritel tercatat masih di bawah tekanan akibat permintaan yang lemah dan biaya input yang tinggi. Sementara itu, sektor perbankan, otomotif, dan properti mencatatkan kinerja yang stabil meski pertumbuhannya tidak signifikan.

Secara keseluruhan, capaian laba emiten hingga September 2025 berada pada level 72-73 persen dari target laba untuk satu tahun penuh. Namun, total laba secara agregat masih tercatat mengalami kontraksi sekitar 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja Kuartal III 2025 Mulai Tunjukkan Perbaikan

Memasuki kuartal ketiga tahun 2025, tren pemulihan mulai terlihat lebih jelas. Sektor perunggasan menjadi primadona dengan pertumbuhan laba yang fantastis, melonjak 211 persen dibanding kuartal sebelumnya dan 111 persen secara tahunan. Lonjakan ini didorong oleh membaiknya harga broiler dan meningkatnya permintaan dari program pemerintah.

Sektor perbankan juga menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan laba kuartalan sebesar 8,2 persen. Peningkatan ini dipimpin oleh kinerja Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia yang berhasil menekan biaya provisi dan meningkatkan efisiensi operasional.

Sektor tembakau atau rokok mencatatkan pertumbuhan paling spektakuler dengan kenaikan laba mencapai 1.412 persen secara kuartalan. Pencapaian ini tidak lepas dari penjualan yang solid dan keberhasilan dalam menyesuaikan harga jual.

Sektor kesehatan dan teknologi juga terus menunjukkan perkembangan positif melalui peningkatan efisiensi operasional. Bank digital, khususnya, mencatatkan kinerja yang mencolok berkat pengelolaan biaya yang lebih disiplin.

Prospek Ke Depan: Stimulus Diperkirakan Pacu Sektor Siklikal

RHB Sekuritas menyimpulkan bahwa lanskap kinerja emiten hingga kuartal ketiga 2025 masih terpolarisasi. Sektor defensif dan konsumsi tetap menjadi penggerak utama, sementara industri padat modal masih menghadapi berbagai kendala.

Namun, prospek untuk kuartal IV-2025 hingga tahun 2026 mulai menunjukkan titik terang. Penurunan suku bunga dan stimulus fiskal dari pemerintah diperkirakan akan menjadi katalis yang dapat mendorong percepatan pemulihan di sektor-sektor siklikal.

Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan kebijakan ekonomi dan tren pasar untuk mengambil keputusan investasi yang tepat. Setiap keputusan pembelian atau penjualan saham merupakan tanggung jawab penuh dari investor.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar