Ringgit Malaysia Jadi Mata Uang Terkuat Asia 2025, Tembus Level 4,1!

- Jumat, 14 November 2025 | 05:00 WIB
Ringgit Malaysia Jadi Mata Uang Terkuat Asia 2025, Tembus Level 4,1!

Ringgit Malaysia Jadi Mata Uang Terkuat di Asia 2025, Simak Analisanya

Kinerja Ringgit Malaysia mencatatkan rekor positif sebagai mata uang dengan performa terbaik se-Asia pada tahun 2025. Berita ini menjadi sorotan utama sepanjang Kamis (13/11), bersamaan dengan laporan eksodus besar-besaran warga Selandia Baru akibat tekanan ekonomi.

Ringgit Malaysia Capai Level Tertinggi dalam 4 Tahun

Nilai tukar Ringgit Malaysia menguat mendekati posisi puncak dalam hampir empat tahun terakhir. Penguatan ini didorong oleh membaiknya prospek ekonomi domestik dan meredanya ketegangan perdagangan internasional, yang menarik minat investor asing terhadap pasar obligasi lokal.

Analis keuangan memproyeksikan Ringgit berpeluang menembus level 4,1 per dolar AS, mencatat rekor tertinggi sejak Mei 2021. Stabilitas kebijakan suku bunga bank sentral dan akselerasi pertumbuhan ekonomi menjadi faktor pendukung utama, sesuai dengan analisis dari BNY dan Malayan Banking Bhd.

Sepanjang tahun 2025, investor internasional telah mengalirkan dana hampir USD 4 miliar ke obligasi Malaysia, memperkuat fondasi Ringgit di pasar valas. Sebagai negara eksportir, Malaysia juga diuntungkan oleh pemulihan permintaan global, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga yang melampaui ekspektasi.

Membaiknya hubungan dagang Amerika Serikat dan China sebagai mitra utama Malaysia turut meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong arus modal asing. Para ahli strategi Maybank menyatakan sentimen terhadap Ringgit tetap optimis.

Momentum penguatan diprediksi berlanjut didukung likuiditas valuta asing perusahaan yang berpotensi dikonversi. Pada perdagangan Kamis (13/11), Ringgit bertahan di level 4,13 per dolar AS.

Eksodus Massal Warga Selandia Baru Akibat Krisis Ekonomi

Sebanyak 72.684 warga Selandia Baru tercatat bermigrasi dalam 12 bulan hingga September 2025, menyusul memburuknya kondisi perekonomian negara. Pencarian pendapatan yang lebih baik menjadi alasan utama.

Data menunjukkan 26.318 warga telah kembali, sementara 46.366 orang masih berada di luar negeri, menciptakan arus keluar berskala besar. Meski jumlah pekerja asing yang masuk meningkat 12.434 dari tahun sebelumnya, angka ini masih di bawah rekor 2023 yang mencapai 135.529.

Ekonomi Selandia Baru mengalami kontraksi selama paruh pertama 2025, dengan proyeksi pemulihan yang lambat akibat lemahnya penyerapan tenaga kerja dan tingginya pengangguran.

Kondisi ini mendorong migrasi besar-besaran ke Australia, sekaligus menurunkan ketertarikan pekerja asing ke Selandia Baru. Fenomena ini meningkatkan tekanan politik terhadap Perdana Menteri Christopher Luxon, yang klaim pemulihan ekonomi belum terbukti nyata.

Survei terbaru menunjukkan penurunan dukungan untuk partai berkuasa menjelang pemilu 2026. Data statistik mengungkap 58% warga yang bermigrasi memilih Australia sebagai tujuan utama hingga Maret 2025.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar