Domain AI.com Terjual Rp1,1 Triliun, Pecahkan Rekor Termahal Sepanjang Sejarah

- Rabu, 11 Februari 2026 | 15:40 WIB
Domain AI.com Terjual Rp1,1 Triliun, Pecahkan Rekor Termahal Sepanjang Sejarah

MURIANETWORK.COM - Sebuah domain internet yang sangat sederhana, AI.com, baru-baru ini terjual dengan harga yang mencengangkan dunia teknologi: sekitar 70 juta dolar AS atau setara Rp1,1 triliun. Transaksi ini mencatatkan rekor baru sebagai penjualan domain termahal sepanjang sejarah, mengalahkan rekor-rekor sebelumnya dengan selisih yang signifikan. Domain yang kini menjadi aset strategis ini ternyata berasal dari kisah seorang teknopreneur asal Malaysia yang membelinya secara tidak sengaja puluhan tahun lalu.

Dari Inisial Pribadi Menjadi Aset Triliunan

Kisah di balik domain super premium ini justru bermula dari sesuatu yang sangat personal, jauh dari strategi bisnis besar-besaran. Domain AI.com selama bertahun-tahun dimiliki oleh Arsyan Ismail, seorang teknopreneur asal Malaysia. Yang mengejutkan, ia memperolehnya pada 1993, saat usianya masih sekitar 10 tahun, dengan harga yang sangat terjangkau, kira-kira hanya Rp200.000.

Kala itu, Arsyan menggunakan kartu kredit ibunya untuk membeli domain tersebut. Pilihannya jatuh pada dua huruf "A" dan "I" semata-mata karena itu adalah inisial namanya sendiri. Tak seorang pun, termasuk dirinya, yang bisa membayangkan bahwa beberapa dekade kemudian, kombinasi dua huruf itu akan menjadi singkatan global untuk "Artificial Intelligence" atau kecerdasan buatan, sebuah bidang yang mendefinisikan era teknologi modern.

Selama puluhan tahun, AI.com hanyalah aset digital yang tersimpan tanpa nilai komersial berarti. Situasi berubah drastis ketika gelombang revolusi AI melanda dunia. Ledakan minat global terhadap teknologi ini secara otomatis mendorong nilai setiap aset yang terkait dengan kata kunci "AI", termasuk domain yang telah lama dipegang Arsyan, melambung tinggi ke angka yang tak terduga.

Transaksi Rekor yang Mengubah Segalanya

Proses negosiasi yang panjang akhirnya berbuah pada April 2025. Arsyan menyetujui penjualan AI.com kepada Kris Marszalek, salah satu pendiri dan CEO platform kripto ternama, Crypto.com. Uniknya, transaksi fantastis ini diselesaikan sepenuhnya menggunakan mata uang kripto, sebuah detail yang mencerminkan konvergensi antara aset digital klasik dan sistem keuangan era baru.

Dengan nilai yang disepakati, penjualan ini dengan mudah memecahkan rekor sejarah. Sebagai perbandingan, domain CarInsurance.com terjual seharga 49,7 juta dolar AS pada 2010, sementara Voice.com dibeli dengan harga 30 juta dolar AS pada 2019. Angka 70 juta dolar AS untuk AI.com benar-benar menaikkan standar pasar domain premium ke level yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Ambisi Besar di Balik Dua Huruf

Bagi pembelinya, Kris Marszalek, akuisisi ini jauh lebih dari sekadar mendapatkan alamat website yang pendek dan mudah diingat. Ini adalah langkah strategis untuk menancapkan kaki di masa depan teknologi yang sedang berlangsung cepat.

Marszalek mengungkapkan bahwa brand AI.com diposisikan untuk menjadi pintu gerbang utama bagi berbagai layanan AI yang ditujukan untuk konsumen luas. Ambisi besar ini bukan sekadar wacana.

"Pembelian domain tersebut bukan sekadar soal nama internet yang pendek dan mudah diingat, tetapi strategi untuk menjadi bagian dari masa depan teknologi kecerdasan buatan global," jelasnya.

Keseriusan itu dibuktikan dengan rencana peluncuran platform baru di bawah nama tersebut, yang bahkan telah diperkenalkan melalui iklan besar-besaran di ajang Super Bowl LX. Langkah marketing agresif di salah satu panggung olahraga paling berpengaruh di dunia itu menunjukkan niat untuk langsung bermain di liga utama dan menangkap perhatian miliaran calon pengguna.

Dengan demikian, perjalanan AI.com dari inisial seorang anak di Malaysia menjadi aset strategis bernilai triliunan rupiah bagi seorang pionir kripto, bukan hanya mencerminkan keberuntungan semata, tetapi juga bagaimana sebuah nama dapat menyimpan nilai yang berubah seiring dengan transformasi peradaban teknologi.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar