Yang menarik, untuk mencapai performa gahar itu, Nvidia memakai cara khusus. Huang mengungkap, chip Rubin menggunakan jenis format data proprietary milik mereka sendiri.
"Inilah cara kami mampu menghadirkan lonjakan kinerja yang begitu besar, meskipun jumlah transistor kami hanya 1,6 kali lipat lebih banyak,"
Begitu penjelasan Huang di atas panggung. Pernyataan itu sekaligus menjawab kekhawatiran banyak pihak soal konsumsi daya. Seperti dilaporkan AFP, Nvidia berjanji produk Rubin akan berjalan jauh lebih efisien dibanding pendahulunya. Poin ini penting, mengingat sorotan terhadap kebutuhan energi AI yang kian panas.
Soal nama, Vera Rubin bukan sembarang pilihan. Nama itu diambil dari seorang astronom wanita asal Amerika Serikat. Ia terkenal berkat penelitiannya yang mendalam tentang materi gelap atau dark matter.
Lantas, siapa yang akan pertama kali mencicipi teknologi mutakhir ini? Nvidia menyebut CoreWeave, penyedia infrastruktur cloud untuk AI dan komputasi berkinerja tinggi, akan termasuk yang pertama. Namun begitu, raksasa teknologi lain seperti Microsoft, Oracle, Amazon, dan Alphabet (Google) juga diperkirakan tak akan ketinggalan untuk mengadopsinya. Perlombaan AI, tampaknya, akan memasuki babak baru yang lebih sengit.
Artikel Terkait
Mengapa Otak Kita Merindukan Debur Ombak Saat Stres?
Telkomsel Genjot Pemulihan Jaringan Pascabanjir Aceh, Capai 99%
OpenAI Luncurkan ChatGPT Health, Asisten Kesehatan yang Tak Gantikan Dokter
Jejak Purba di Batu: Kisah di Balik Fosil yang Membisu