AS Kekurangan 300 Jet Tempur, Gagal Penuhi Target Trump

- Minggu, 09 November 2025 | 03:20 WIB
AS Kekurangan 300 Jet Tempur, Gagal Penuhi Target Trump

Angkatan Udara AS Kekurangan 300 Jet Tempur untuk Penuhi Target Trump

Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) diproyeksikan gagal memenuhi target pengadaan jet tempur yang ditetapkan oleh Presiden Donald Trump hingga tahun 2030. Analisis terbaru menunjukkan USAF memerlukan tambahan ratusan unit pesawat tempur berbagai model dalam dekade mendatang untuk memenuhi kebutuhan pertahanan nasional.

Target Ambisius dan Realita Kekuatan Udara AS

Berdasarkan dokumen perencanaan yang diajukan ke Kongres, USAF membutuhkan 1.558 jet tempur siaga penuh untuk memenuhi tuntutan global sesuai Pedoman Strategis Pertahanan Nasional Sementara (INDSG). Angka ini menunjukkan kekurangan hampir 300 unit dari proyeksi kekuatan udara yang hanya mencapai 1.271 jet tempur pada 2026.

Kendala Pengadaan Jet Tempur USAF

Dokumen tersebut mengungkap target realistis USAF hanya mencapai 1.369 jet tempur pada awal 2030. Pencapaian target ini menghadapi tiga kendala utama:

  • Keterbatasan anggaran pertahanan
  • Kapasitas industri pertahanan yang terbatas
  • Tuntutan modernisasi yang saling bersaing

Solusi Pengadaan: F-15EX dan F-35A

Laporan mengidentifikasi dua model pesawat tempur kunci untuk mengatasi kekurangan ini:

  • F-15EX Boeing dengan kapasitas produksi 24 unit per tahun pada 2027
  • F-35A Lockheed Martin dengan target produksi 100 unit per tahun pada 2030

Tantangan Produksi dan Modernisasi

Ekspansi produksi pesawat tempur menghadapi beberapa tantangan signifikan:

  • Kebutuhan perluasan fasilitas produksi
  • Kekurangan hardware dan software untuk upgrade F-35
  • Penundaan produksi dan pensiunnya pesawat tua seperti A-10 dan F-22
  • Defisit anggaran tahunan sebesar $400 juta
  • Kompetisi pendanaan dengan program jet tempur generasi keenam

Latar Belakang Strategis Pertahanan AS

INDSG Trump menekankan perlunya menutup kesenjangan kapabilitas militer AS dalam menghadapi China yang ditetapkan sebagai saingan strategis utama. Pentagon juga mendorong peningkatan produksi rudal secara signifikan terkait kekhawatiran kesiapan menghadapi kemungkinan konflik, khususnya concerning Taiwan.

Pemerintah China secara konsisten menolak tuduhan agresi militer terhadap Taiwan dan mengkritik AS atas upaya mempersenjatai wilayah tersebut serta ekspansi kehadiran militer yang dinilai memicu ketegangan regional.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar