IPDN Hadirkan Pakar Geopolitik Prof. Connie Bakrie untuk Bekali Praja Menghadapi Tantangan Global
Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) menggelar kuliah umum yang menghadirkan pakar geopolitik, pertahanan, dan keamanan internasional ternama, Prof. Dr. Connie Rahakundini Bakrie, M.Si. Kuliah umum dengan tema "Meneguhkan Kembali Otonomi Strategis Indonesia dari Gerakan Non Blok Menuju Bricks dan Kemitraan Eurasia Raya" ini ditujukan bagi seluruh praja dan civitas akademika IPDN.
Dalam paparannya, Prof. Connie menekankan bahwa generasi muda, termasuk para praja IPDN, hidup di era yang penuh pilihan dan ujian. Ia mengingatkan agar para calon pemimpin ini selalu menjaga nurani dan kesadaran.
"Kalian (praja) harus benar-benar menjaga nurani dan kesadaran karena zaman ini teknologi bisa menjadi berkah, tetapi juga bisa menjadi jebakan. Kekuasaan bisa menjadi alat kemajuan atau malah menjadi sumber kejatuhan," ujar Connie Bakrie di kampus IPDN.
Prof. Connie juga menyampaikan bahwa kejayaan Indonesia di masa depan tidak akan lahir hanya dari Jakarta, melainkan akan bangkit dari daerah-daerah. Posisi Indonesia sangat bergantung pada kemampuan mengharmoniskan identitas maritim, dirgantara, kemandirian ekonomi, dan diplomasi berperadaban.
Doktrin Kepemimpinan Berkesadaran dan Konsep TEPIDOIL
Sebagai calon pemimpin, para praja IPDN diharapkan dapat melahirkan doktrin kepemimpinan berkesadaran yang berpijak pada desentralisasi dan berakar pada TEPIDOIL.
TEPIDOIL adalah akronim dari pilar-pilar strategis yang mencakup:
- Territory (Teritori)
- Economy (Ekonomi)
- People (Masyarakat)
- Ideology (Ideologi)
- Defense (Pertahanan)
- Organization (Organisasi)
- Infrastructure (Infrastruktur)
- Leadership (Kepemimpinan)
Kepemimpinan berkesadaran didefinisikan sebagai kemampuan untuk berpikir strategis layaknya negarawan, berperasaan lembut seperti agamawan, bertindak berani sebagai patriot, dan berjiwa melayani rakyat.
Ancaman Maritim dan Bawah Laut yang Perlu Diwaspadai
Prof. Connie juga memaparkan berbagai contoh ancaman nyata yang dihadapi Indonesia, seperti ancaman maritim dan bawah laut, serta perang di ruang udara dan maya.
"Kepadatan pelayaran dunia menjadikan kawasan Selat Malaka target perebutan pengaruh ekonomi dan militer. Di bawah samudra bersemayam kapal selam, kabel fiber optik, dan sistem komunikasi dunia yang menjadi target sabotase. Data dan citra udara menjadi senjata intelijen geopolitik. Itu harus kalian pahami dan pelajari sedini mungkin," tegasnya.
Rektor IPDN: Praja Harus Siap Bersaing di Jejaring Internasional
Rektor IPDN, Dr. Halilul Khairi, M.Si., menyatakan bahwa kehadiran Prof. Connie adalah kesempatan emas bagi para praja. Dalam era globalisasi, pemahaman tentang situasi global dan posisi Indonesia mutlak diperlukan.
"Praja harus paham situasi global dan posisi Indonesia saat ini. Kalian dipersiapkan untuk masuk ke jejaring internasional, membawa Indonesia di kancah internasional," kata Rektor Halilul Khairi.
Untuk mempersiapkan hal tersebut, IPDN tidak hanya menekankan prinsip lokal dan akar budaya nasional, tetapi juga meningkatkan kompetensi global para praja. Langkah nyatanya adalah dengan menjadikan tes TOEFL sebagai syarat masuk dan lulus, serta menyisipkan materi-materi pengetahuan global dalam kurikulum pendidikan.
Artikel Terkait
Menlu RI Bawa Isu Palestina dan Rekonstruksi Gaza ke Sidang DK PBB
Iran Intensifkan Pengawasan Militer di Selat Hormuz Usai Latihan Gabungan
Trump Pantau Perundingan Nuklir AS-Iran dari Washington, Kapal Induk Dikerahkan
Kebakaran Hanguskan Kanopi Depan Mall Ciputra Cibubur, Api Berhasil Dipadamkan