FDI Global Turun 3% di Paruh Pertama 2025: Penyebab, Dampak, dan Proyeksi

- Minggu, 02 November 2025 | 23:20 WIB
FDI Global Turun 3% di Paruh Pertama 2025: Penyebab, Dampak, dan Proyeksi
FDI Global Turun 3% di Paruh Pertama 2025: Penyebab dan Dampaknya

FDI Global Turun 3% di Paruh Pertama 2025, Tren Penurunan Berlanjut

Investasi Langsung Asing (FDI) global kembali mengalami kontraksi, turun tiga persen pada paruh pertama tahun 2025. Penurunan ini melanjutkan tren penurunan yang telah berlangsung selama dua tahun berturut-turut.

Penyebab Utama Penurunan FDI Global

Laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan bahwa penurunan ini dipicu oleh sejumlah faktor kunci. Ketegangan perdagangan yang belum reda, lingkungan suku bunga tinggi, serta ketidakpastian geopolitik global membuat para investor menjadi lebih berhat-hati dalam menanamkan modalnya.

Penurunan Tajam di Negara Maju

Berdasarkan Global Investment Trends Monitor yang dirilis oleh UNCTAD, penurunan FDI secara global sebagian besar disumbangkan oleh kinerja yang lesu di negara-negara maju. Aktivitas merger dan akuisisi (M&A) lintas batas, yang menjadi komponen utama FDI di kawasan ini, anjlok signifikan sebesar 18 persen menjadi USD173 miliar.

Kondisi FDI di Negara Berkembang

Berbeda dengan negara maju, negara-negara berkembang secara keseluruhan menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Arus masuk FDI ke kawasan ini relatif stabil dan tidak mengalami perubahan berarti. Namun, performanya sangat bervariasi antar wilayah.

Perbedaan Tren di Berbagai Kawasan

  • Peningkatan: Amerika Latin dan Karibia mencatat kenaikan FDI sebesar 12 persen, sementara negara-negara berkembang di Asia juga tumbuh 7 persen.
  • Penurunan Drastis: Di sisi lain, benua Afrika mengalami tekanan berat dengan arus masuk FDI yang merosot tajam hingga 42 persen.

Dampak pada Investasi Industri dan Infrastruktur

Biaya pinjaman yang masih tinggi dan iklim ekonomi yang tidak pasti terus menjadi hambatan utama untuk investasi di sektor industri dan infrastruktur sepanjang paruh pertama 2025.

Proyek Greenfield dan Pembiayaan Internasional Terkontraksi

Pengumuman proyek greenfield, di mana perusahaan membangun operasi baru dari nol di luar negeri, juga menunjukkan tren negatif. Jumlah proyek tersebut turun 17 persen, dengan penurunan paling dalam mencapai 29 persen terjadi di sektor manufaktur yang padat rantai pasokan seperti tekstil, elektronik, dan otomotif. Ketidakpastian terkait kebijakan tarif disebut sebagai penyebab utama kemerosotan ini.

Tidak hanya itu, pembiayaan proyek internasional yang sangat vital untuk pembangunan infrastruktur juga ikut melemah. Jumlah kesepakatan pembiayaan proyek internasional tercatat turun sebesar 11 persen.

Komentar