Rabu kemarin, pasar komoditas ditutup dengan sentuhan warna hijau yang dominan. Batu bara, nikel, dan timah sama-sama merangkak naik. Hanya satu yang terlihat lesu: Crude Palm Oil atau CPO, yang justru mengalami penurunan.
Minyak mentah sendiri mencatatkan penurunan tahunan paling curam dalam beberapa tahun terakhir, tepatnya sejak 2020. Apa penyebabnya? Ternyata, para investor sedang sibuk mempertimbangkan prospek ekonomi Amerika Serikat, sambil terus mengawasi risiko gangguan pasokan yang mungkin datang dari Venezuela dan Rusia. Situasi yang cukup kompleks, memang.
Mengutip Reuters, minyak mentah Brent akhirnya turun 14 sen, atau sekitar 0,2 persen, menjadi USD 62,24 per barel. Sementara itu, patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), hanya merosot tipis 3 sen (0,05%) ke level USD 58,29.
Di sisi lain, batu bara justru menunjukkan performa yang cukup perkasa. Harganya melonjak hampir 3 persen, tepatnya 2,93%, berdasarkan data dari Tradingeconomics. Pada penutupan perdagangan, komoditas hitam ini bertengger di angka USD 109 per ton.
Nasib berbeda dialami oleh CPO. Minyak kelapa sawit justru melemah, meski sangat tipis. Data yang sama menunjukkan penurunan sebesar 0,02 persen, sehingga harganya berada di MYR 4.035 per ton.
Lalu, bagaimana dengan logam industri? Nikel di bursa London Metal Exchange (LME) menguat 0,30 persen, menjadi USD 15.786 per ton. Kenaikan yang cukup signifikan.
Sementara itu, timah juga ikut naik, meski hanya sedikit. Logam ini naik tipis 0,05 persen di LME, dan akhirnya menetap di harga USD 42.815 per ton. Jadi, secara keseluruhan, Rabu adalah hari yang cukup baik bagi sebagian besar komoditas, dengan minyak mentah dan CPO sebagai pengecualian.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp20.000, Sentuh Rp2,94 Juta per Gram
IHSG Menguat 0,44% di Awal Pekan, Didorong Sektor Bahan Baku dan Energi
Analis Proyeksikan IHSG Menguat Terbatas, Waspadai Potensi Koreksi
Analis Proyeksikan IHSG Lanjutkan Koreksi, Pantau Level Support 7.712