Kontribusi Indonesia di Forum Perdamaian Dunia 2025: JK, Nasaruddin Umar, dan Arsjad Rasjid Bicara

- Sabtu, 01 November 2025 | 14:20 WIB
Kontribusi Indonesia di Forum Perdamaian Dunia 2025: JK, Nasaruddin Umar, dan Arsjad Rasjid Bicara
Indonesia di Forum Perdamaian Dunia 2025: Kontribusi Jusuf Kalla, Nasaruddin Umar, dan Arsjad Rasjid

Indonesia Berbicara di Forum Perdamaian Dunia 2025: Suara Jusuf Kalla, Nasaruddin Umar, dan Arsjad Rasjid

Pada akhir Oktober 2025, kota Roma menjadi tuan rumah pertemuan bersejarah, Daring Peace – International Meeting for Peace. Dalam forum lintas iman dan budaya ini, tiga tokoh Indonesia mencuri perhatian dunia dengan membawa pesan perdamaian yang kuat dan relevan. Mereka adalah Muhammad Jusuf Kalla, Prof. Nasaruddin Umar, dan Arsjad Rasjid.

Jusuf Kalla: Perdamaian adalah Keberanian untuk Berdialog

Sebagai pembicara utama, Jusuf Kalla menyampaikan pidato yang menggebrak. Berpengalaman sebagai mediator konflik di Poso dan Aceh, mantan Wakil Presiden Indonesia ini menekankan bahwa perdamaian sejati bukanlah sekadar tidak adanya perang. "Perdamaian adalah keberanian untuk meletakkan senjata, baik fisik maupun ideologis, dan memilih jalan dialog, keadilan, dan solidaritas," tegasnya. Ia juga menegaskan peran masjid, sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), harus meluas menjadi pusat peradaban dan solidaritas kemanusiaan, bukan hanya tempat ibadah semata.

Nasaruddin Umar: Bahaya Politisasi Agama dan Islam Rahmatan Lil Alamin

Menteri Agama dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Nasaruddin Umar, menyoroti ancaman politisasi agama terhadap perdamaian global. Dalam pidatonya yang lembut namun tajam, ia menegaskan, "Ancaman terbesar bagi perdamaian bukan agama, melainkan penyalahgunaan agama." Nasaruddin Umar memaparkan konsep Islam rahmatan lil alamin dan menjadikan Indonesia sebagai contoh nyata "laboratorium kerukunan dunia" di mana berbagai umat beragama dapat hidup berdampingan dengan harmonis.

Arsjad Rasjid: Keadilan Ekonomi sebagai Pilar Perdamaian

Di sesi berbeda, Arsjad Rasjid, Ketua Umum KADIN Indonesia, menghadirkan perspektif segar tentang perdamaian dari sudut pandang ekonomi. Menurutnya, ketimpangan ekonomi adalah akar dari banyak konflik. "Ekonomi tanpa kemanusiaan adalah bentuk konflik yang tersembunyi," ujarnya. Sebagai Ketua DMI Bidang Kewirausahaan, Arsjad mendorong peran masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat. Melalui 5P Global Movement yang diinisiasinya, ia menyerukan dunia usaha untuk aktif menjadi bagian dari solusi masalah kemanusiaan.

Harmoni Tiga Pilar: Negara, Agama, dan Dunia Usaha

Kolaborasi ketiga tokoh Indonesia ini menciptakan sebuah harmoni yang powerful. Mereka membuktikan bahwa perdamaian adalah tanggung jawab bersama, bukan monopoli politisi, rohaniwan, atau pengusaha saja. Diplomasi moral Jusuf Kalla, spiritualitas damai Nasaruddin Umar, dan etika ekonomi Arsjad Rasjid berpadu menjadi satu suara yang menggema. Seorang peserta dari Eropa Timur bahkan menyebut Indonesia sebagai "cermin dari masa depan dunia yang plural, tetapi damai."

Forum perdamaian di Roma mungkin telah berakhir, namun pesan yang dibawa oleh tiga tokoh Indonesia ini menjadi panggilan baru bagi dunia untuk terus berani mempercayai dan membangun perdamaian yang berkelanjutan.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar