Ferdinand Hutahean Sebut Utang Whoosh adalah Problem Bangsa Akibat Ambisi Jokowi
Politisi PDI Perjuangan, Ferdinand Hutahean, menyoroti beban utang proyek Kereta Cepat Whoosh yang dinilainya sebagai akibat dari kebijakan keliru Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ferdinand menegaskan bahwa pemerintah kini harus menanggung beban keuangan yang sangat besar karena proyek tersebut.
Whoosh Dibangun Berdasarkan Ambisi, Bukan Kebutuhan
Menurut analisis Ferdinand Hutahean, pembangunan Whoosh didasari oleh ambisi pribadi Jokowi dan bukan karena merupakan kebutuhan mendesak masyarakat. Ia menilai proyek kereta cepat ini tidak masuk dalam skala prioritas pembangunan nasional yang sebenarnya.
"Kita tidak lihat Whoosh ini masuk skala prioritas, seolah-olah ini kebutuhan bangsa tapi ini keinginan dan ambisi, dan sementara itu ini jadi problem bangsa, kebijakan keberanian Pak Jokowi yang keliru itu telah mengakibatkan problem bangsa," ujar Ferdinand dalam program Interupsi di iNews TV.
Beban Utang Whoosh Mencapai Triliunan Rupiah per Tahun
Ferdinand mengungkapkan besarnya beban utang yang harus ditanggung negara dari proyek Whoosh. Bahkan, hanya untuk pembayaran bunganya saja, nilai yang harus dikeluarkan bisa mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya.
Ia menjelaskan, "Problemnya apa? Kita terus ribut membayar utang karena utangnya sangat besar, jangan dibilang restrukturisasi 60 tahun, itu 60 tahun cuma pokoknya saja, belum bunganya. Bunga 2 persen per tahun itu hampir sama dengan artinya Rp2 triliun per tahun jadi bisa Rp4 triliun setahun sama pokoknya."
Pemerintah Cari Solusi Pembayaran Utang Whoosh
Sebagai respons terhadap masalah ini, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi khusus kepada jajaran menteri terkait untuk membahas solusi pembayaran utang Whoosh. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan CEO Danantara Rosan Roeslani ditugaskan untuk menangani masalah ini.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengonfirmasi perkembangan terbaru ini. "Ya, kemarin dibahas. Kemudian Pak Airlangga, Menteri Ekon, Menteri Keuangan, kemudian CEO Danantara, diminta untuk, sebagaimana tadi yang saya sampaikan, menghitung lagi detailnya, kemudian opsi-opsi untuk meminta, misalnya perpanjangan masa pinjaman, itu bagian nanti dari skenario-skenario skema yang terbaik," jelas Prasetyo Hadi di Antara Heritage Center, Jakarta.
Pembahasan utang Whoosh dan upaya restrukturisasi pinjaman menjadi perhatian utama pemerintah baru dalam mengelola beban keuangan negara dari proyek infrastruktur strategis ini.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun