Rumah milik KH Uye Waryo, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di Kampung Arcamanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, dirusak tiga pria pada Selasa (18/8) malam. Peristiwa itu bermula saat Kiai Uye menegur para pelaku karena suara knalpot motor yang bising. Tak terima ditegur, para pelaku justru mengikuti Kiai Uye masuk ke dalam rumah dan mengamuk.
Kapolresta Bandung, Kombes Pol Aldi Subartono, mengatakan perusakan terjadi saat korban bersama sejumlah warga berkumpul di rumah. Mereka mendengar suara geberan motor knalpot bising di depan rumah. Saat ditegur, pelaku bukannya pergi, melainkan masuk ke dalam rumah dan melakukan perusakan.
Dalam video yang beredar, Kiai Uye terlihat meminta para pelaku menahan diri dan tidak emosi. Namun, salah satu pelaku tampak menginjak perabotan miliknya. Polisi yang mendapat laporan keributan segera mendatangi lokasi. Para pelaku akhirnya diamankan oleh warga dan polisi.
KH Uye Waryo diketahui merupakan Rais Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Cimenyan.
Satu Pelaku Jadi Tersangka
Dari tiga pelaku yang diamankan, satu di antaranya bernama Rony. Kapolsek Cimenyan Kompol Deni Rusnandar menyebut Rony telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan. Ia dijerat Pasal 521 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana dan/atau Pasal 448 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan ancaman pidana paling lama dua tahun.
Kerap Buat Onar
Pelaku perusakan rumah tokoh NU itu ternyata sudah kerap membuat resah warga sekitar. Kiai Uye mengatakan, Rony bahkan membuat ibu-ibu hingga anak-anak tak bisa tidur malam hari karena suara motornya yang bising. Rasa takut itu membuat sejumlah keluarga memilih tidak tidur di rumah masing-masing. Beberapa keluarga disebut memilih menginap di rumah orang tua atau berkumpul dengan keluarga lainnya.
Menurut Uye, kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan yang melibatkan pelaku telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Aksi tersebut bukan hanya terjadi dalam momentum tertentu. Pelaku selalu berbuat onar, bahkan di event hajatan tetangga sekalipun.
Uye berharap proses hukum terhadap pelaku dapat berjalan sesuai aturan. Ia menyerahkan sepenuhnya penanganan perkara kepada kepolisian. Ia menegaskan tidak ingin mengambil tindakan sendiri. Bahkan saat aksi perusakan terjadi, Uye justru berupaya menahan warga agar tidak melakukan perlawanan.
Kerugian materi akibat perusakan tersebut bukan menjadi persoalan utama baginya. Uye lebih menyoroti tindakan pelaku yang terjadi setelah sebelumnya warga berupaya menyelesaikan persoalan melalui musyawarah. "Secara materi itu tidak seberapa, tapi kita sehari sampai malam berbicara dengan mendamaikan mereka, hasil perdamaian sudah dibuat tapi mereka berbuat yang lain," katanya.
Kronologi
Peristiwa ini bermula pada Senin (17/8) saat terjadi keributan pertandingan futsal antar RW di Desa Mekar Manik. Keributan itu melibatkan Roni dan teman-temannya dengan Asep dan teman-temannya. KH Uye Waryo yang dituakan di desa diminta menjadi mediator agar masalah diselesaikan secara damai. Mediasi dilakukan di rumahnya, dihadiri aparat kepolisian serta pihak-pihak yang terlibat.
"Sebetulnya pada tanggal 17 Agustus itu sudah dinyatakan selesai dengan adanya mediasi dan musyawarah kekeluargaan di tingkat RW. Sudah bereslah selesai, karena dihadiri oleh aparat dari Polsek, dari kedua belah pihak, korban dan pelaku," kata Uye. Namun, Asep tidak hadir dalam musyawarah tersebut meski telah diundang. Malam harinya, muncul kembali ketegangan setelah Asep menyatakan tidak menerima hasil kesepakatan.
Pada Selasa pagi, pengurus RT dan RW mendapat informasi Roni dkk berencana mencari Asep. Kondisi tersebut membuat Uye diminta membantu mencari solusi. Ia kemudian mengumpulkan pihak keluarga Roni, tokoh masyarakat, perangkat desa, serta pengurus lingkungan untuk kembali membicarakan penyelesaian. Saat proses musyawarah berlangsung, sejumlah warga dari RW 6 disebut turun secara bergerombol dan melakukan sweeping untuk mencari Asep. Mereka bahkan mendatangi rumah orang tua Asep. Uye kemudian meminta agar Asep dipanggil dan persoalan diselesaikan melalui jalur musyawarah. Asep tinggal di Ujung Berung, sekitar 40 menit naik motor dari Desa Mekar Manik.
Perwakilan Roni menyampaikan syarat penyelesaian: Asep diminta mengakui perbuatannya dan meminta maaf. Uye kemudian meminta orang tua dan paman Asep mendatangi Asep yang berada di kawasan Ujung Berung. Hasilnya, Asep mengakui telah melakukan pemukulan terhadap Roni dan menyampaikan permintaan maaf melalui sambungan telepon. Setelah pengakuan dan permintaan maaf diterima, kedua pihak kembali bermusyawarah. Dalam proses tersebut, Roni melalui keluarga meminta kompensasi sebesar Rp 3 juta. Kesepakatan kemudian dituangkan dalam surat pernyataan perdamaian yang ditandatangani dan disaksikan oleh Sekretaris Desa, Bhabinkamtibmas, RT, RW, tokoh masyarakat, serta pemuda setempat.
Beberapa jam setelah kesepakatan damai dibuat, suasana kembali memanas. Sekitar pukul 22.00 WIB, Uye bersama sejumlah warga sedang berada di rumah sambil menyaksikan pertandingan Persib. Dari luar rumah, terdengar suara sepeda motor yang digeber-geber. Uye keluar untuk menegur karena waktu sudah malam. Roni, yang merupakan salah satu dari rombongan pemotor itu, kemudian turun dari motor dan mengikuti Uye hingga masuk ke rumah. Dua orang lainnya juga sempat berusaha masuk, tetapi berhasil dicegah warga dan aparat. Roni melakukan perusakan terhadap sejumlah perabot di dalam rumah, mulai dari kaca pintu, meja, kursi, hingga peralatan makan.
Uye memilih meminta warga untuk tidak melakukan perlawanan. "Saya lihatin aja, enggak diapa-apain. Karena saya tahu bahwa dia tuh lagi terpengaruh obat terlarang, kalau saya bertindak juga salah," katanya. Bhabinkamtibmas yang berada di lokasi kemudian meminta bantuan anggota Polsek. Tiga orang yang diduga terlibat dalam aksi tersebut kemudian diamankan aparat kepolisian. Menurut Uye, insiden perusakan itu sudah berada di luar persoalan awal yang sebelumnya telah diselesaikan melalui musyawarah dan perdamaian.
Artikel Terkait
Tokoh NU Bandung Serahkan Penanganan Perusakan Rumah ke Polisi
Perusakan Rumah Kiai NU di Bandung Berawal dari Keributan Futsal
Rumah Tokoh NU di Bandung Dirusak Tiga Pria Usai Tegur Knalpot Bising
Tamu Hotel di Bandung Gasak Tiga Televisi, Polisi Buru Pelaku