Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa pabrik baterai kendaraan listrik (EV) terintegrasi milik konsorsium Contemporary Amperex Technology Co. Ltd (CATL) dan Indonesia Battery Corporation (IBC) telah mulai beroperasi. Proyek yang dikenal dengan nama Proyek Dragon ini kini tinggal menunggu jadwal peresmian oleh Presiden Prabowo Subianto, yang semula direncanakan sebelum 17 Agustus.
Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM, Ahmad Erani Yustika, mengungkapkan bahwa seluruh proses konstruksi telah rampung dan pabrik sudah beroperasi secara bertahap. "Insyaallah kayaknya sudah (selesai). Tapi tinggal nunggu jadwalnya Pak Presiden. Rencananya, kan, kemarin sebelum tanggal 17. Tapi sampai sekarang masih belum dapat jadwal lagi," ujarnya kepada awak media, Jumat (21/8).
Meski demikian, Erani memastikan bahwa pabrik yang berlokasi di Karawang, Jawa Barat, tersebut telah beroperasi meskipun masih bertahap. "Sudah kayaknya sudah mulai beroperasi juga, kan, walaupun mungkin masih bertahap, ya. Tapi sudah mulai beroperasi," jelasnya.
Proyek ini merupakan hasil kerja sama antara CATL dan IBC melalui perusahaan patungan bernama Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB). Pabrik tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi baterai sebesar 6,9 gigawatt hour (GWh) pada tahap pertama, yang mencakup baterai jenis nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium iron phosphate (LFP). Pada tahap kedua, kapasitasnya akan ditingkatkan menjadi 8,1 GWh, dan rencana ekspor baru akan dilakukan pada tahap ini, dengan catatan telah menemukan pembeli atau offtaker. Total investasi proyek ini mencapai USD 1,1 miliar.
Sebelumnya, pemerintah masih membahas pengajuan insentif fiskal berupa pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) atau tax holiday untuk proyek ini. Pembahasan tersebut melibatkan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan dan Kementerian Investasi/BKPM. Erani menjelaskan bahwa diskusi masih berlangsung untuk menyelaraskan interpretasi atas keputusan Menteri Keuangan terkait tax holiday. "Ini menyangkut penggunaan tahun, itu perlu ada kesepahaman lah antara DJP, dengan BKPM, dengan ESDM, untuk memastikan apakah proyek Dragon tadi itu, CATL, beberapa joint venture-nya itu bisa memperoleh fasilitas tersebut," tuturnya.
Presiden Direktur IBC, Aditya Farhan Arif, menyatakan bahwa perusahaan membidik pasar ekspor untuk baterai NMC ke Eropa, terutama Jerman, karena permintaan baterai berbasis nikel masih tinggi di kawasan tersebut. Sementara itu, baterai LFP produksi IBC akan digunakan untuk battery energy storage system (BESS), termasuk penyimpanan energi di pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). IBC juga telah memiliki calon pembeli untuk baterai LFP, salah satunya dari Jepang.
Aditya menambahkan bahwa pabrik ini ditargetkan mencapai Commercial Operation Date (COD) pada Juli ini. "Insyaallah Juli ini COD (Commercial Operation Date). Kemungkinan akhir bulan," katanya dalam bincang Mind Club di Jakarta, Senin (18/5).
Artikel Terkait
Persaingan Para King Maker Mulai Panas Menjelang Pilpres 2029
KAI Masih Kaji Pembangunan Jalur Kereta Trans-Kalimantan dan Bali
Aliansi Mahasiswa Indonesia Desak Prabowo Evaluasi Kinerja Menteri dan Ancang-Ancang Reshuffle
Komisi I DPR Segera Rapat Bahas Rencana Penjualan Eks KRI Ki Hajar Dewantara