Alfamart dan Alfamidi Class Resmi Ditutup, 794 Guru Vokasi Lulus Program Penguatan Link and Match

- Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:01 WIB
Alfamart dan Alfamidi Class Resmi Ditutup, 794 Guru Vokasi Lulus Program Penguatan Link and Match

Program penguatan kompetensi guru vokasi yang digagas Alfamart bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi berakhir. Sebanyak 794 guru dan 229 sekolah dinyatakan lulus setelah mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026.

Penutupan program Alfamart dan Alfamidi Class digelar di Kantor Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Bisnis dan Pariwisata, Depok, Jawa Barat, Kamis (20/8). Acara tersebut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Dr. Fajar Riza serta Human Capital Director Alfamart dan Alfamidi Tri Wasono Sunu.

Program ini dirancang untuk memperkuat keterhubungan antara dunia pendidikan dan industri ritel nasional. Melalui kurikulum berbasis industri, para guru tidak hanya dibekali teori, tetapi juga pengalaman praktik langsung melalui pemagangan di gerai-gerai Alfamart. Dengan begitu, kompetensi yang dimiliki guru diharapkan semakin relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang ditandatangani Alfamart dan Kemendikdasmen pada Mei 2026. Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau 229 business center yang tersebar di 29 provinsi.

Kolaborasi Dunia Usaha dan Pemerintah

Wakil Menteri Fajar Riza mengapresiasi kontribusi Alfamart dan Alfamidi dalam pengembangan pendidikan vokasi. Menurutnya, kolaborasi antara dunia usaha dan pemerintah sangat penting untuk meningkatkan kompetensi siswa sekaligus memperkuat kapasitas tenaga kependidikan.

“Tadi kita dengarkan testimoni dari guru-guru yang mengikuti program ini, dan mereka memberikan apresiasi yang sangat positif. Pertama mereka mendapatkan manfaat dalam proses pemagangan ini, sehingga lebih mengetahui proses bisnis yang terjadi dan tentu memberikan nilai tambah saat mereka kembali ke sekolah masing-masing,” ujarnya.

Fajar juga menyoroti konsistensi Alfamart dan Alfamidi yang telah menghadirkan program Alfamart Class sejak 2009. “Kami mengapresiasi Alfamart dan Alfamidi yang konsisten memberikan dukungan terhadap dunia pendidikan vokasi kita, sehingga kita punya Tendik yang tidak hanya kompeten namun juga mempunyai pengalaman terhadap bidang-bidang keilmuan yang mereka ajarkan di sekolahnya,” tambahnya.

Ia berharap inisiasi program ini dapat terus berlanjut dan diperluas manfaatnya, sehingga semakin banyak guru vokasi yang merasakan pengalaman langsung di dunia industri.

17 Tahun Perjalanan Alfamart Class

Human Capital Director Alfamart dan Alfamidi, Tri Wasono Sunu, mengatakan program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman tenaga pendidik terhadap industri ritel, tetapi juga menjadi bagian dari sinkronisasi kebutuhan dunia usaha dengan pendidikan vokasi.

“Selama 17 tahun perjalanan program, Alfamart dan Alfamidi Class terus berinovasi. Tidak hanya menyediakan fasilitas pendukung pendidikan melalui business center ritel modern, tetapi juga memperkuat kapasitas Tendik agar dapat memahami dan mengimplementasikan proses bisnis ritel modern secara lebih komprehensif,” jelas Sunu.

Dari 229 business center yang tersedia, 169 di antaranya merupakan Alfamart Class dan 60 lainnya Alfamidi Class. Adapun 794 guru yang mengikuti program terdiri dari 650 guru Alfamart Class dan 144 guru Alfamidi Class.

“Komitmen Alfamart dan Alfamidi dalam mendukung sektor pendidikan akan terus kami selaraskan dengan kebutuhan dan dinamika industri yang semakin adaptif. Harapan kami, melalui penguatan kompetensi guru vokasi ini, dapat lahir lulusan yang semakin siap dan memiliki kompetensi yang relevan untuk menghadapi dunia kerja,” ujar Sunu.

Keterhubungan antara pendidikan vokasi dan industri juga tercermin dari penyerapan lulusan. Dalam satu tahun terakhir, sebanyak 3.870 lulusan telah terserap menjadi karyawan, terdiri dari 3.431 lulusan di Alfamart dan 439 lulusan di Alfamidi.

Salah satu peserta program pemagangan, Klasina Akely dari SMKN 1 Sorong, Papua Barat Daya, mengaku mendapatkan pengalaman berharga. Selain mengikuti pelatihan secara hybrid, para peserta juga menjalani pemagangan di gerai-gerai Alfamart. Pengalaman tersebut membantunya memahami praktik kerja di industri yang kemudian dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah.

“Setelah menjalani program magang, saya menyadari bahwa banyak pembelajaran industri yang belum diterapkan di sekolah. Contohnya seperti materi administrasi transaksi. Harapannya tahun depan ada program seperti ini agar para guru mendapat pengalaman berharga. Guru-guru di sekolah bisa langsung terjun ke dunia industri dan dapat kembali ke sekolah untuk menerapkan ilmu tersebut kepada murid sehingga mereka tidak kaget dengan dunia industri,” jelasnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags