LSBA Bekasi Resmi Dibuka, Beri Ruang Pendidikan Vokasi bagi Penyandang Disabilitas

- Senin, 17 Agustus 2026 | 18:05 WIB
LSBA Bekasi Resmi Dibuka, Beri Ruang Pendidikan Vokasi bagi Penyandang Disabilitas

Tepuk tangan meriah mengiringi penampilan Marthalima Dwi Satryo, siswa London School Beyond Academy (LSBA) Bekasi, yang berduet dengan Mr. Josef Radel dalam acara peresmian LSBA di Arswendo Atmowiloto Centre for Performing Arts, LSPR Transpark Bekasi, akhir pekan lalu. Penampilan itu turut disaksikan Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial, Fatma Saifullah Yusuf, yang mengaku tersentuh.

"Melihat penampilan anak-anak kita tadi, hati saya sangat tersentuh. Mereka membuktikan bahwa di balik keterbatasan ada talenta luar biasa yang mekarnya hanya butuh satu hal: kesempatan," ujar Fatma dalam keterangannya, Senin (17/8/2026).

Kehadiran LSBA Bekasi menjadi bagian dari upaya memperluas ruang pendidikan vokasional bagi remaja penyandang disabilitas. Kampus yang berada di lingkungan LSPR Transpark Bekasi ini tidak hanya menawarkan pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga mempersiapkan peserta didik menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan formal.

"Setelah pendidikan formal, kita harus menyiapkan anak-anak untuk menjadi lebih mandiri, bermartabat, dan bisa diterima di masyarakat," kata Fatma.

Fatma menyampaikan bahwa kebutuhan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus terus berkembang. Karena itu, pendidikan lanjutan perlu diarahkan pada penguatan keterampilan praktis, kepercayaan diri, kemampuan sosial, hingga kesiapan memasuki dunia kerja.

Tidak hanya itu, Fatma juga menggarisbawahi peran krusial para orang tua yang konsisten mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Perjuangan dan kasih sayang keluarga menjadi fondasi utama keberhasilan pendidikan vokasi ini.

Ia pun menyambut baik konsistensi Founder & CEO LSPR Institute, Prita Kemal Gani, serta Direktur LSBA & LSCAA, Associate Professor Chrisdina, dalam menghadirkan pendidikan vokasional yang memberi ruang bagi anak-anak untuk mengenali dan mengembangkan potensinya.

"Pendidikan inklusif bukan hanya tentang materi yang diberikan di kelas. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak-anak ini memiliki kepercayaan diri, keterampilan, dan kesempatan untuk berkontribusi di masyarakat," ucap Fatma.

Senada dengan itu, Chrisdina mengatakan setiap anak memiliki potensi dan kebutuhan pengembangan yang berbeda. Karena itu, LSBA tidak menerapkan pendekatan yang seragam kepada seluruh peserta.

"Pembelajaran di LSBA menekankan praktik langsung dengan program yang disesuaikan dengan kemampuan peserta," papar Chrisdina.

Ia mengungkapkan peserta tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga dibekali kemampuan komunikasi, sosial, disiplin, tanggung jawab, dan kepercayaan diri. Pendekatan pembelajaran menggunakan metode fun learning, visual, dan auditori dengan memadukan aspek pedagogis, teknologi, dan emosional sesuai kebutuhan peserta.

Lebih lanjut, Chrisdina menjelaskan LSBA Bekasi menyediakan empat bidang keterampilan, yakni Tata Boga, Kriya, Administrasi Perkantoran, serta Digital Desain dan Cetak. Peserta menjalani enam semester pembelajaran yang kemudian dilanjutkan dengan dua semester pelatihan kerja. Sebelum diterima, calon peserta yang merupakan lulusan SMA atau sederajat terlebih dahulu menjalani asesmen untuk menentukan kebutuhan dan program pengembangan yang sesuai.

Dengan kapasitas maksimal 70 peserta didik setiap angkatan, LSBA Bekasi dilengkapi sejumlah fasilitas praktik, antara lain Laboratorium Tata Boga, Sablon, Kriya, dan Kerajinan Tangan. Pembelajaran ini nantinya akan dilanjutkan ke dunia kerja.

Kolaborasi LSBA & Kemensos

Kementerian Sosial menjadi salah satu instansi yang merangkul siswa dan lulusan LSBA. Saat ini, Selalu Ada Kopi, sebuah kafe disabilitas yang berada di Kantor Kementerian Sosial, telah menjadi ruang kerja profesional bagi penyandang disabilitas untuk mengembangkan keterampilan sebagai chef, barista, dan waiter sekaligus belajar mengelola operasional usaha.

Di samping Selalu Ada Kopi, kolaborasi Kementerian Sosial, LSBA, dan berbagai pihak lain yang tergabung dalam DIFABELA DWP Kemensos membuktikan daya saing karya penyandang disabilitas di pasar terbuka. Produk kriya dan kuliner yang dihasilkan para siswa mampu memenuhi standar kompetensi industri. Kemensos berencana mengadaptasi pola pembelajaran dan pendampingan terstandar milik LSBA ke sentra-sentra rehabilitasi sosial di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagai informasi, turut hadir pada peresmian ini Penasihat DWP Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Shinta Maruarar Sirait. Fatma Saifullah Yusuf bersama Shinta Maruarar, Founder dan CEO LSPR Institute Prita Kemal Gani, Kemal Effendi Gani selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Pesona Pribadi Sejahtera yang menaungi LSPR, dan mantan Duta Besar Indonesia untuk Qatar H.E. Ridwan Hassan bersama-sama memotong pita menandai pembukaan LSBA Bekasi di Lantai 2 LSBA Bekasi.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags