Merokok Bukan Simbol Keren, tapi Ketergantungan

- Senin, 17 Agustus 2026 | 08:01 WIB
Merokok Bukan Simbol Keren, tapi Ketergantungan

Kopi di meja, rokok di samping, korek ditaruh rapi, lalu difoto estetik dan diunggah ke media sosial. Pemandangan semacam ini kerap dianggap sebagai paket lengkap gaya hidup laki-laki dewasa. Namun, di balik unggahan itu, pertanyaannya: bagian kerennya di mana?

Kopi habis diminum, rokok habis dibakar, uang ikut habis, dan asapnya masuk ke paru-paru. Yang tersisa hanyalah foto untuk story. Merokok bukanlah simbol kedewasaan, kejantanan, kesuksesan, apalagi keren. Justru yang lebih keren adalah mereka yang bisa nongkrong santai tanpa gelisah mencari rokok.

Mereka bisa menikmati kopi, mengobrol, bahkan menghadapi stres tanpa harus bergantung pada benda kecil yang harus dibakar berkali-kali sehari. Jika merokok benar-benar hanya pilihan dan bukan kecanduan, meninggalkannya seharusnya mudah. Namun kenyataannya, ada orang yang lupa membawa dompet dan tetap santai, tapi lupa membawa rokok, lima menit kemudian sudah mencari warung.

Jadi, sebelum merasa keren dengan memajang rokok di samping kopi, coba pikirkan lagi: apakah yang sedang dipamerkan adalah gaya hidup atau justru ketergantungan?

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags