Perkembangan transaksi digital telah mengubah cara masyarakat menggunakan Rupiah. Namun, pergeseran menuju pembayaran non-tunai tidak serta-merta membuat pengelolaan uang fisik ditinggalkan. Di tengah perubahan tersebut, Bank Indonesia (BI) menyiapkan transformasi pengelolaan uang rupiah agar tetap mampu menjawab kebutuhan masyarakat, sekaligus memastikan ketersediaan uang tunai di seluruh wilayah Indonesia.
Deputi Gubernur BI, Ricky P. Gozali, membeberkan bahwa BI perlu beradaptasi dalam mengelola rupiah. Terlebih, BI juga menghadapi dinamika industri pengelolaan uang dan tuntutan terhadap praktik yang lebih berkelanjutan. Dengan demikian, ada tiga strategi yang dilakukan BI dalam hal ini.
“Bank Indonesia melakukan transformasi pengelolaan uang rupiah (PUR) melalui 3 hal. Pertama, modernisasi jaringan distribusi PUR. Yang kedua, menerapkan digitalisasi PUR secara end-to-end. Dan yang ketiga adalah penerapan prinsip sustainability,” kata Ricky dalam pembukaan Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Untuk strategi pertama, Ricky menjelaskan yakni melakukan modernisasi jaringan distribusi rupiah. Hal ini sejalan dengan komitmen BI untuk menyediakan rupiah dalam jumlah yang cukup, pecahan yang sesuai, kualitas yang baik, dan pada waktu yang tepat di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Distribusi rupiah juga dilakukan melalui kolaborasi dengan TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara. Ricky menyampaikan apresiasi kepada kedua institusi tersebut atas sinergi dalam distribusi rupiah ke wilayah 3T.
“Kerja sama Bank Indonesia dengan TNI Angkatan Laut untuk menghadirkan rupiah hingga ke wilayah 3T mendapat penghargaan sebagai Central Banking Award Kategori Currency Inisiatif,” imbuhnya.
Strategi kedua adalah menerapkan digitalisasi pengelolaan rupiah secara end-to-end. Hal ini menjadi salah satu bagian dari transformasi BI dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis pengelolaan rupiah, termasuk pesatnya perkembangan transaksi non-tunai dan digitalisasi pengelolaan uang.
“Saat ini pengelolaan uang rupiah menghadapi perubahan lingkungan strategis seperti pesatnya perkembangan transaksi non tunai, digitalisasi pengelolaan uang, dinamika industri PUR, serta tuntutan informal sustainability,” jelasnya.
Adapun strategi ketiga yang dilakukan bank sentral adalah menerapkan prinsip sustainability dalam pengelolaan rupiah. Salah satunya pemanfaatan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK).
“Terima kasih kepada PLN Indonesia, Indonesia Power, PLN Nusantara Power dan PT Solusi Bangun Indonesia atas sinergi implementasi green fuel, yaitu pemanfaatan LRUK sebagai energi atau konversi waste to energy,” ujarnya.
Program Rupiah Waste to Worth Collaboration yang berkaitan dengan upaya keberlanjutan tersebut juga mendapat International Association of Currency Affairs (IACA) Award kategori Best New Environmental Sustainability Project.
Transformasi pengelolaan rupiah yang dilakukan BI juga telah mendapat sejumlah pengakuan internasional. Ricky menyebut Rupiah Tahun Emisi 2022 memperoleh penghargaan Best New Banknote Series pada IACA Award 2023. Selain itu, pecahan rupiah Rp50.000 Tahun Emisi 2022 mendapat pengakuan sebagai salah satu uang kertas dengan tingkat keamanan terbaik di dunia.
“Yang kedua, pecahan rupiah Rp50.000 tahun emisi 2022 juga mendapat pengakuan sebagai salah satu uang kertas dengan tingkat keamanan terbaik di dunia,” ujar Ricky.
Transformasi pengelolaan rupiah tersebut menjadi salah satu hal yang dibawa BI dalam penyelenggaraan Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 yang digelar pada 14-16 Agustus 2026. FERBI telah digelar setiap tahun sejak 2022 dan tahun ini menjadi penyelenggaraan yang kelima.
“FERBI tahun 2026 ini mengusung tema Rupiah Berdaulat Indonesia Bermartabat. Tema itu menegaskan bahwa kita perlu menjaga kedaulatan rupiah agar Indonesia semakin bermartabat di mata dunia,” ujar Ricky.
Pada penyelenggaraan FERBI tahun ini, BI juga meluncurkan logo baru sebagai simbol semangat untuk memperkuat kolaborasi, inovasi, dan persatuan dalam menjaga kedaulatan Rupiah. Selain itu, BI juga menginisiasi Bridge, forum dialog dan kolaborasi antara bank sentral, pelaku dan asosiasi dalam ekosistem pengelolaan Rupiah, serta para ahli dari dalam dan luar negeri.
“Bridge membuka berbagai isu strategis PUR seperti desain uang, strategi pemberantasan uang palsu, modernisasi dan digitalisasi infrastruktur, hingga inovasi pengelolaan uang ke depan,” jelasnya.
Selain membahas transformasi pengelolaan rupiah, FERBI 2026 juga menghadirkan kelas belajar, talkshow, eksibisi, championship, dan berbagai kegiatan lainnya yang dapat diikuti masyarakat.
“Saya berharap FERBI 2026 ini tidak berhenti sebagai sebuah festival, namun juga menjadi momentum untuk memperkuat rasa memiliki terhadap rupiah, memperkuat jejaring kolaborasi, dan membangun ekosistem PUR yang semakin modern, aman, inklusif, serta berkelanjutan,” kata Ricky.
Artikel Terkait
OJK Dukung Insentif BI untuk Bank Penampung SBN dan SRBI
Duet Srikandi di Puncak Bank Indonesia: Sejarah Baru dan Tantangan yang Menanti
BI Ubah Limbah Uang Kertas Jadi Energi, Raih Penghargaan Internasional
BI Dorong Pembiayaan Syariah untuk Ekspansi Korporasi