Langit Jakarta kembali menjadi sorotan setelah diselimuti kabut abu-abu saat Car Free Day (CFD) di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (16/8). Fenomena ini memicu kekhawatiran warga akan kualitas udara yang semakin memburuk.
Menanggapi hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta buka suara. Mereka mengaku belum bisa melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengatasi polusi, karena sejumlah syarat teknis belum terpenuhi.
Kepala BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, menjelaskan bahwa pihaknya selalu berkoordinasi dengan BMKG sebelum memutuskan melakukan OMC. Namun, berdasarkan pemantauan, ada tiga indikator yang belum mendukung.
“Terkait dengan OMC, kami selalu koordinasi dulu dengan BMKG sebelum dilaksanakan OMC,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (16/8).
Pertama, ketersediaan awan hujan di wilayah Jakarta masih sangat rendah. “Jadi ketersediaan awannya tidak ada, rendah, sangat rendah sekali,” katanya.
Kedua, kondisi atmosfer Jakarta sangat kering. Kelembapan udara belum cukup untuk mendukung proses penyemaian awan. “Kelembapan atmosfernya itu tidak ada, sangat kering, jadi enggak mungkin dia menyerap air,” jelasnya.
Ketiga, arah angin saat ini tidak mengarah ke Jakarta. Hal ini membuat BPBD kesulitan menentukan lokasi penyemaian garam. “Karena tiga indikator tersebut, maka kami belum bisa melakukan OMC, karena enggak ada di mana kami harus menyemai garam. Enggak ada lokasinya,” kata Marulitua.
Meski demikian, potensi awan hujan masih terpantau di sejumlah wilayah di luar Jakarta, seperti Bogor, kawasan Citarum, dan Sukabumi, Jawa Barat. BPBD bersama BMKG terus memantau perkembangan kondisi atmosfer dan potensi awan hujan, baik dalam periode dasarian (sepuluh harian) maupun harian.
“Namun prediksinya BMKG untuk dasarian dengan harian itu relatif tidak jauh berbeda,” ujarnya.
Marulitua memastikan pihaknya siap menjalankan perintah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk melakukan OMC begitu seluruh indikator terpenuhi. “Jadi perintah Pak Gubernur untuk melakukan modifikasi cuaca kami tetap lakukan bila indikator-indikator itu terpenuhi dan kami sudah koordinasi dengan BMKG juga. Sewaktu-waktu indikator itu meningkat, kami bisa langsung melakukan modifikasi cuaca. Intinya sudah siap,” tuturnya.
Bagaimana Modifikasi Cuaca Dilakukan?
OMC dilakukan dengan menyemai garam natrium klorida (NaCl) ke awan hujan. Proses ini bertujuan mempercepat turunnya hujan dari awan yang menjadi target penyemaian.
Penyemaian dilakukan menggunakan pesawat yang masuk ke dalam awan. Setelah berada di dalam awan, bahan semai berupa garam NaCl ditaburkan. “Kami butuh awannya. Itu yang belum ada, awannya ini belum ada,” katanya.
Ke depan, BPBD masih akan memantau potensi terbentuknya awan hujan bersama BMKG secara berkala.
Langit Jakarta Diselimuti Polusi
Sebelumnya, video yang beredar di media sosial memperlihatkan langit Jakarta tampak diselimuti kabut tebal berwarna abu-abu saat CFD di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Minggu (16/8). Kabut tersebut bukan berasal dari kawasan pegunungan, melainkan kondisi udara yang tercemar di Jakarta.
Berdasarkan kanal udara.jakarta.go.id, kualitas udara di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (16/8) pukul 10.30 WIB berada di skor 121. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
Artikel Terkait
Cekcok dengan Kekasih, Pemuda di Jakbar Tenggelam Saat Cari Kunci di Kali
BMKG Waspadai 4.900 Titik Panas Jelang Puncak Kemarau, Karhutla Mengintai
BMKG: Modifikasi Cuaca Tingkatkan Curah Hujan hingga 40 Persen saat Kemarau
BMKG: El Nino Kuat, Operasi Modifikasi Cuaca Digelar untuk Cegah Kekeringan dan Karhutla