Wisuda Kedua ADI Kota Bogor: Jumlah Lulusan Melonjak dari 4 ke 29 Mahasiswa

- Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:00 WIB
Wisuda Kedua ADI Kota Bogor: Jumlah Lulusan Melonjak dari 4 ke 29 Mahasiswa

Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Kota Bogor mencatat lonjakan signifikan jumlah lulusan pada wisuda keduanya. Setahun setelah hanya meluluskan empat mahasiswa, lembaga kaderisasi dai di bawah naungan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu kini mewisuda 29 mahasiswa dalam acara yang digelar di Gedung DPRD Kota Bogor, Sabtu (15/8/2026).

Ketua DDII Kota Bogor, Ustaz Abdul Khalim, mengakui bahwa awal berdirinya lembaga ini hanya bermodal keberanian, tekad, dan semangat. Namun, capaian tersebut kini dianggapnya sebagai mimpi yang perlahan menjadi kenyataan.

"Alhamdulillah diawali empat orang mahasiswa, tahun kedua ini sudah 29 mahasiswa," ujarnya.

Menurut Ustaz Khalim, semangat tersebut berangkat dari keteladanan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam membina umat sesuai kapasitas masing-masing. Dari kapasitas yang terus dikembangkan itulah, menurutnya, dapat lahir hasil yang luar biasa.

Dari 29 wisudawan angkatan kedua, lima di antaranya merupakan mahasiswa reguler, sementara 24 lainnya mengikuti program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Para peserta RPL tersebut berasal dari 23 santri Pondok Pesantren Riyadul Huda dan satu santri Pondok Pesantren Al-Qur'an Hadis.

Program RPL ini menunjukkan bahwa kaderisasi dai tidak hanya melalui jalur pendidikan reguler, tetapi juga membuka ruang bagi para santri untuk memperkuat kapasitas dakwah mereka.

Pentingnya Kader Dai

Ketua Bidang Pendidikan DDII, Ujang Habibi, menegaskan bahwa ADI merupakan unit penting dalam pengkaderan dai. Menurutnya, keberadaan dai adalah unsur utama dalam pergerakan dakwah. Tanpa kader yang dipersiapkan secara serius, gerakan dakwah akan sulit berkembang.

"Kalau dainya enggak kita cetak, bagaimana dakwah bisa bergerak?" tegasnya.

Ujang memberikan apresiasi kepada para wisudawan dan orang tua yang telah mendukung serta mewakafkan putra-putrinya untuk bergabung dalam barisan aktivis dakwah. Ia juga menilai perkembangan ADI Kota Bogor dalam dua tahun terakhir cukup pesat.

"Akademi Dakwah Bogor, Kota Bogor, yang baru dua tahun tapi ini sudah larinya sprint," ujarnya.

Mimpi Besar: Tanah Wakaf

Di balik perkembangan tersebut, DDII Kota Bogor masih menyimpan mimpi besar: memiliki tanah wakaf sendiri sebagai pusat pendidikan dan kaderisasi dai. Ustaz Khalim mengungkapkan, pihaknya tengah berupaya mewujudkan cita-cita itu. Bahkan, dalam pelantikan pengurus sebelumnya, telah terkumpul modal awal sekitar Rp12 juta untuk memulai ikhtiar pencarian tanah wakaf.

"Ini menunjukkan bahwa kita dengan kemampuan kita dan usaha kita, kalau memang Allah mengizinkan dan meridai, insyaallah pada waktunya akan muncul tanah yang bisa kita bangun untuk pendidikan kader dai di Kota Bogor ini," katanya.

Bagi DDII Kota Bogor, tanah wakaf tersebut bukan sekadar aset, melainkan rumah bagi proses panjang melahirkan kader-kader dakwah yang memiliki kapasitas keilmuan dan kesiapan mengabdi kepada masyarakat.

Kompetensi dan Dakwah Global

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat, KH Muhyiddin Junaidi, mengingatkan para wisudawan bahwa tantangan dakwah ke depan semakin kompleks. Seorang dai tidak cukup hanya menguasai ilmu agama.

"Kuncinya dalam berdakwah adalah kompetensi," jelasnya.

Menurut Kiai Muhyiddin, kompetensi merupakan gabungan penguasaan berbagai ilmu pengetahuan. Karena itu, lulusan ADI dituntut menguasai ilmu lain di luar ilmu agama agar mampu hidup mandiri sekaligus memberikan kontribusi lebih besar bagi masyarakat. Ia bahkan mendorong para alumni untuk tidak berhenti pada orientasi mencari pekerjaan, melainkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan.

"Harus ada keunggulan komparatif dari alumni ADI. Apa yang bisa mereka lakukan? Bukan hanya mencari pekerjaan, tapi ke depan para pendakwah itu harus mampu menciptakan lapangan pekerjaan," ujarnya.

Lebih jauh, Kiai Muhyiddin mengajak para lulusan memiliki visi dakwah yang mendunia. Menurutnya, kebutuhan terhadap pendakwah tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara. "Dakwah harus global," katanya, seraya mencontohkan Australia sebagai salah satu negara yang membutuhkan pendakwah.

Warisan Para Nabi

Pembina DDII Pusat, MS Kaban, mengingatkan bahwa menjadi dai berarti mengemban misi besar yang diwariskan para nabi, yakni mengajak manusia kepada kebaikan dan jalan Allah. Mantan Menteri Kehutanan itu mengenang pengalamannya ketika masih menjadi aktivis kampus dan mendapatkan motivasi dari pendiri Dewan Dakwah, Mohammad Natsir. Salah satu bentuk perhatian Pak Natsir kepada para aktivis kala itu adalah memberikan buku sebagai bekal belajar dan memahami Islam.

Karena itu, ia mengaku terharu melihat para orang tua yang telah mengantarkan anak-anak mereka menjadi calon dai. "Bapak-bapak, Ibu-ibu telah mempersiapkan pelanjut-pelanjut risalah para nabi, para dai-dai," tuturnya.

MS Kaban juga mengingatkan bahwa perjalanan dakwah tidak selalu mudah. Para dai bisa saja menghadapi orang-orang dengan karakter seperti Namrud maupun Firaun. Namun, seorang dai tidak boleh gentar karena tempat bersandarnya adalah Allah SWT.

"Tidak ada power yang perlu dikhawatirkan dalam membawa kalimat Allah Subhanahu wa ta'ala," tegasnya.

Sementara itu, Pembina DDII Kota Bogor, KH Muhammad Abbas Aula, mengingatkan para wisudawan mengenai janji Allah kepada orang-orang yang menolong agama-Nya. Ia mengutip QS. Muhammad ayat 7 dan QS. Al-Hajj ayat 40 tentang pertolongan Allah bagi mereka yang menolong agama-Nya.

Menurutnya, ada tiga hal utama yang harus menjadi perhatian: menegakkan salat, menunaikan zakat, serta melakukan amar makruf nahi mungkar. Ketiga hal tersebut menjadi bagian penting dari ikhtiar untuk menghadirkan pertolongan Allah SWT dalam perjuangan dakwah.

Pesan tersebut menjadi penutup yang kuat bagi para wisudawan: gelar yang mereka sandang bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang sebagai kader dakwah.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terpopuler