Klaim Sekretaris Kabinet (Seskab) bahwa 43.000 anak yang sebelumnya hidup di jalanan kini bersekolah di Sekolah Rakyat menuai keraguan. Sejumlah pihak menilai angka tersebut tidak masuk akal dan tidak didukung data valid.
Iman Zanatul Haeri, guru sekaligus Kepala Bidang Advokasi Guru di Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), menyoroti pernyataan tersebut. Ia mengingatkan bahwa jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Indonesia mencapai 4 juta jiwa. Rinciannya, 217 ribu anak putus sekolah, 337 ribu lulusan SMP tidak melanjutkan pendidikan, 575 ribu anak belum pernah sekolah, dan total 1,1 juta anak usia 16-18 tahun yang tidak bersekolah.
"43 ribu itu hanya sekitar 1% dari anak tidak sekolah di Indonesia," ujarnya. Ia juga meragukan validitas data 43 ribu tersebut.
Keraguan serupa disampaikan akun @AndhyFerry di media sosial. "Bayangin aja sekolah rakyat baru ada 166 titik dan hanya mampu menampung 15.900 lebih siswa," tulisnya. Ia mempertanyakan apakah klaim tersebut masuk kategori hoaks.
Senada, pengamat media sosial Dayat Piliang menilai pola klaim semacam ini kerap menyodorkan angka bombastis tanpa bukti nyata di lapangan. "Polanya memang menyampaikan angka-angka yang seolah-olah bombastis, tapi tidak ada bukti nyata dalam dokumentasi atau dampak di sekitar kita," katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Seskab terkait keraguan tersebut. Publik pun dihadapkan pada pertanyaan: seberapa akurat klaim yang disampaikan pejabat publik?
Artikel Terkait
Wamensos Dorong Pemkab Madina Percepat Sekolah Rakyat dan Mutakhirkan Data Sosial
Bedah Rumah Orang Tua Siswa Sekolah Rakyat di Sumenep Mulai Berjalan
Sekolah Rakyat Gelar MPLS, Siswa Tampil Percaya Diri di Depan Seskab dan Mensos
Sekolah Rakyat: 43 Ribu Anak Kini Kembali Bermimpi