BGN Ancam Cabut Izin Dapur MBG yang Terbukti Sengaja Menyebabkan Keracunan

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:50 WIB
BGN Ancam Cabut Izin Dapur MBG yang Terbukti Sengaja Menyebabkan Keracunan

Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmennya untuk menekan angka kasus keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga nol. Kepala BGN Sudaryono menyatakan pihaknya tidak akan segan menjatuhkan sanksi tegas, termasuk mencabut izin operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG, jika terbukti ada unsur kesengajaan dalam kasus keracunan.

"Terkait sanksi, tentu saja gini, setiap kejadian itu satu, dapurnya di suspend," ujar Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jakarta, Rabu (5/8/2026). Selain itu, BGN akan berkoordinasi dengan Kemenkes untuk menginvestigasi sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan.

"Kemudian kita investigasi, sebetulnya keracunannya karena apa? Ini keracunan ini kami sudah merubah, jadi ini keracunan ini menjadi suatu hal yang fatal," tuturnya.

Meski masih ada sejumlah faktor yang menjadi dugaan penyebab, BGN tidak menutup kemungkinan melibatkan aparat kepolisian jika ditemukan indikasi kesengajaan atau sabotase. "Nah ini kita lagi cari formula, kalau memang ada unsur-unsur lain misalnya ada unsur kesengajaan, sabotase, dan lain-lain, kami tidak segan-segan untuk kemudian diperiksa oleh pihak Kepolisian," tegas Sudaryono.

Kendati demikian, BGN tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah selama proses investigasi berlangsung. "Memang kalau ada ya kita serahkan semua. Bukan kemudian kita tutup-tutupi atau kemudian kita bela-bela, kalau salah ngapain dibela, gitu. Nah, jadi cuman kan kita mesti juga ada asas praduga tak bersalah," tambahnya.

Sudaryono menjelaskan, target BGN saat ini adalah menurunkan kasus keracunan MBG hingga angka nol. Pihaknya menerapkan kebijakan zero tolerance terhadap kasus keracunan, mengingat dampaknya berkaitan dengan nyawa dan kesehatan banyak orang, terutama anak-anak.

"Ini zero tolerance sama keracunan, kita lagi cari, maksudnya so far sih sudah menurun, cuman kita ingin nol, enggak boleh lagi ada. Jadi bukan kok kemudian menurun kita berpuas hati, enggak. Target saya adalah gimana caranya, apapun caranya, bagaimana caranya itu kemudian nol case keracunannya," jelasnya.

Menurutnya, salah satu penyebab umum kasus keracunan adalah ketidakpatuhan terhadap prosedur operasional standar (SOP), terutama dalam hal waktu memasak yang terlalu dekat dengan jam pembagian makanan hingga menyebabkan makanan basi. "Kami melihat beberapa sebab, ini kita ngomong lebih umum ada yang misalnya SOP-nya dia masaknya kecepatan," lanjut dia.

BGN juga tengah merumuskan langkah pencegahan agar kasus serupa tidak terulang. Sudaryono menyoroti potensi keracunan yang tidak hanya dialami siswa, tetapi juga keluarga mereka. Hal ini bisa terjadi jika makanan MBG yang seharusnya dimakan di sekolah justru dibawa pulang dan dikonsumsi bersama anggota keluarga lain.

"Termasuk mohon maaf, ada satu case keracunan itu karena makanannya dibawa pulang. Jadi misalnya dia sudah benar semua dapurnya kemudian sudah diberikan ke siswanya di waktu yang masih sesuai. Tapi kemudian dia bungkus, dibawa pulang, dan dikonsumsi bersama keluarga yang lain. Sehingga yang keracunan bukan hanya siswanya, tapi termasuk anggota keluarga yang mengonsumsi makanan itu," pungkas Sudaryono.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags