Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menargetkan angka kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) turun hingga nol. Target ini ditegaskan setelah ia berdiskusi dengan Kementerian Kesehatan dan para ahli gizi di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada Rabu (5/8/2026).
Sudaryono menegaskan bahwa BGN menerapkan prinsip zero tolerance terhadap kasus keracunan MBG. Menurutnya, kasus ini menyangkut nyawa, keamanan, dan kesehatan banyak orang, terutama anak-anak. "Ini zero tolerance sama keracunan, kita lagi cari, maksudnya so far sih sudah menurun, cuman kita ingin nol, enggak boleh lagi ada. Jadi bukan kok kemudian menurun kita berpuas hati, enggak. Target saya adalah gimana caranya, apapun caranya, bagaimana caranya itu kemudian nol case keracunannya," ujarnya.
Ia mengungkapkan beberapa penyebab umum keracunan, salah satunya ketidakpatuhan terhadap prosedur operasional standar (SOP) oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), terutama terkait jarak waktu memasak dengan pembagian makanan. "Kami melihat beberapa sebab, ini kita ngomong lebih umum ada yang misalnya SOP-nya dia masaknya kecepatan," tuturnya.
Untuk mencegah kasus serupa terulang, BGN tengah merumuskan berbagai rancangan. Sudaryono juga menyoroti potensi keracunan yang tidak hanya dialami siswa, tetapi juga keluarga mereka. Hal ini bisa terjadi jika MBG yang dibagikan tidak langsung dimakan di sekolah, melainkan dibawa pulang dan dikonsumsi bersama keluarga, meskipun SPPG telah menerapkan SOP jam masak yang benar. "Termasuk mohon maaf, ada satu case keracunan itu karena makanannya dibawa pulang. Jadi misalnya dia sudah benar semua dapurnya kemudian sudah diberikan ke siswanya di waktu yang masih sesuai. Tapi kemudian dia bungkus, dibawa pulang, dan dikonsumsi bersama keluarga yang lain. Sehingga yang keracunan bukan hanya siswanya, tapi termasuk anggota keluarga yang mengonsumsi makanan itu," jelasnya.
Karena itu, edukasi tentang kandungan gizi dan cara penyimpanan makanan menjadi pekerjaan rumah bagi BGN. Siswa perlu diedukasi agar mengetahui makanan mana yang harus segera dimakan dan tidak boleh didiamkan terlalu lama. "Termasuk juga menjelaskan kandungan gizinya dan mencegah tadi tuh, 'jangan yang ini jangan dibawa pulang, yang ini' gitu. Jadi kita berharap kita ke depan ini kita berusaha untuk bagaimana fungsi-fungsi edukasi ini betul-betul ya betul-betul secara konsekuen itu kita terapkan," kata dia.
Di sisi lain, Sudaryono menegaskan akan mengambil langkah tegas terhadap SPPG yang diduga melakukan kesengajaan hingga menyebabkan keracunan. Ia tidak segan melibatkan kepolisian untuk investigasi dan penanganan kasus sebagai sanksi. "Nah ini kita lagi cari formula, kalau memang ada unsur-unsur lain. Misalnya ada unsur kesengajaan, sabotase, dan lain-lain, kami tidak segan-segan untuk kemudian diperiksa oleh pihak Kepolisian. Memang kalau ada ya kita serahkan semua. Bukan kemudian kita tutup-tutupi atau kemudian kita bela-bela, kalau salah ngapain dibela, gitu. Nah, jadi cuman kan kita mesti juga ada asas praduga tak bersalah," tuturnya.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendukung langkah BGN dalam pencegahan kasus keracunan. Kementerian Kesehatan telah menurunkan tim untuk melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan. "Jadi, begitu itu ada keracunan, tim Kementerian Kesehatan sudah turun. Laporannya sudah ada, hasil lab-nya juga sudah ada. Jadi, memang kita identifikasi ada beberapa makanan yang ada bakteri e-coli-nya. Bukan hanya semangka, tapi ada beberapa makanan lain. Dan kita juga sudah melihat masalahnya ada prosesnya di mana, dan kita sudah memberikan masukan ke BGN mengenai masalah-masalah yang terjadi di SPPG tersebut," tuturnya.
Artikel Terkait
BGN Buka Peluang Serahkan Kasus Keracunan MBG ke Polisi Jika Ada Unsur Sabotase
BGN Beri Tenggat 10 Agustus 2026 bagi Dapur MBG yang Belum Punya Sertifikat Higiene
Polda Metro Jaya Tangkap Perempuan Penyebar Hoaks Aksi Massa 2026
BPS: Gaji 13 dan MBG Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026