Kemenkes Temukan Bakteri E.coli di Makanan MBG yang Sebabkan Keracunan Massal

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 23:18 WIB
Kemenkes Temukan Bakteri E.coli di Makanan MBG yang Sebabkan Keracunan Massal

Kementerian Kesehatan mengonfirmasi bahwa kasus keracunan massal yang melanda penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Semarang dan Papua disebabkan oleh kontaminasi bakteri Escherichia coli (E.coli) pada sejumlah sampel makanan. Hasil uji laboratorium yang telah rampung menjadi dasar evaluasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan, pihaknya langsung menerjunkan tim investigasi begitu menerima laporan keracunan. Pemeriksaan laboratorium kemudian mengonfirmasi adanya bakteri berbahaya tersebut. "Begitu ada keracunan, Kementerian Kesehatan sudah turun. Laporannya sudah ada, hasil lab-nya juga sudah ada. Jadi memang kita identifikasi ada beberapa makanan yang ada bakteri E.coli-nya," tuturnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/8).

Selain menemukan sumber kontaminasi, Kemenkes juga mengidentifikasi titik rawan dalam proses penyelenggaraan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Temuan ini telah disampaikan kepada BGN sebagai bahan perbaikan. "Kita juga sudah melihat masalahnya dan prosesnya di mana. Kita juga sudah memberikan masukan ke BGN mengenai masalah-masalah yang terjadi di SPPG tersebut," ujar Budi.

BGN Dinilai Responsif

Dalam kesempatan yang sama, Budi mengapresiasi respons cepat Kepala BGN Sudaryono terhadap berbagai masukan perbaikan. "Saya pribadi melihat sekarang Pak Sudaryono ini jauh sangat responsif, jauh sangat terbuka, sehingga kalau dapat masukan itu cepat sekali merespons," terangnya.

Budi menambahkan, BGN berkomitmen mempercepat pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) di seluruh dapur MBG untuk memperkuat keamanan pangan. "Memang kita juga tadi duduk bersama mengajak masukan dari para ahli, karena ini kan sudah banyak SPPG-nya. Ada saja selalu kekurangan-kekurangan dari sisi SLHS. Saya sudah dapat komitmen dari beliau, beliau akan pastikan itu semuanya dapat dalam waktu yang relatif cepat," katanya.

Ia berharap evaluasi ini mampu mencegah terulangnya kasus serupa. "Tapi bagaimana caranya kita bisa mencegah supaya ini enggak terjadi lagi, kan kemungkinan terjadi itu ada. Beliau juga tadi bertanya secara terbuka terhadap para ahli, ada saran-saran apa," ucap dia.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags