Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Dalam kunjungannya ke Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (20/8), ia menyebutkan bahwa setiap tahunnya terdapat 120 hingga 140 ribu orang meninggal akibat penyakit menular ini.
"Ini penyakit yang kematiannya 120-140 ribu setahun. Lebih banyak dari Covid nih dan kalau kita ngomong setiap 5 menit 2 (orang) meninggal," ujar Budi di sela-sela peninjauan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan skrining TB menggunakan rontgen dada di SMA A. Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng.
Budi menjelaskan, Indonesia menempati peringkat kedua kasus TB terbanyak di dunia setelah India. Meski obatnya sudah tersedia, angka kematian tetap tinggi karena proses skrining yang lambat. "Padahal obatnya ada. Kok kenapa obatnya ada, meninggalnya banyak? Karena memang skriningnya, ketahuannya sering sangat-sangat lama, karena susah-susah pakai X-ray. Kadang-kadang mesti pakai tes kayak Polymerase Chain Reaction (PCR) dulu," bebernya.
26 Santri Terindikasi TB
Dalam skrining yang dilakukan di ponpes tersebut, ditemukan 26 siswa yang terindikasi TB. Budi menegaskan bahwa temuan ini justru merupakan hal positif karena mereka bisa segera diobati. "Tadi udah dicek, udah ketemu 26. Kalau ketemu nggak apa-apa. Ya, justru dengan ketemu bisa diobatin. Dan kalau udah diobatin sebulan jadi berhenti penularannya," katanya.
Ia juga meminta masyarakat tidak menjauhi penderita TB. "Jadi banyak orang yang bilang kalau ada TBC, 'Wah kelihatan jelek'. Enggak, justru kalau ketemu TBC itu bagus. Karena bisa diobatin dan tidak menular," terang Budi.
Senada dengan itu, istri Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Lelly Lailiyah, membenarkan adanya 26 siswa dengan indikasi TB. Mereka akan mendapatkan pengobatan gratis selama satu hingga tiga bulan. "Nah untuk semua santri-santri Tebuireng tidak perlu takut ketularan. Tapi memang ada caranya untuk supaya teman-teman kalian yang terindikasi itu diberikan obat langsung selama kurang lebih 1 bulan sampai dengan 3 bulan. Gratis. Nah yang gratis ini yang paling asli," jelasnya.
Lelly juga mengimbau para santri untuk tidak mengisolasi teman yang terindikasi TB, melainkan tetap memakai masker. "Jadi tidak boleh teman-temannya itu diisolasi atau dijauhi. Tetapi sama-sama cuma teman-temannya nanti pakai masker. Ya nanti teman-temannya pakai masker. Jadi itu harap dimaklumi," ujarnya.
Skrining Ditargetkan ke 42 Ribu Pesantren
Pemerintah berencana memperluas skrining TB ke seluruh pesantren di Indonesia. Budi menargetkan program ini dapat menjangkau 42 ribu pesantren. Untuk mempercepat proses skrining, Kementerian Kesehatan akan membeli ribuan alat X-ray portabel.
"Nah, sekarang dengan teknologi baru, X-ray itu bisa dibawa ke mana-mana. Kemenkes akan membeli X-ray yang banyak, ribuan, agar bisa melakukan screening atau X-ray rontgen ke sekolah-sekolah, ke pesantren-pesantren, ke lapas-lapas terutama yang memang tidurnya rapat-rapat, banyak, seperti berasrama seperti ini," papar Budi.
Budi berharap skrining di Tebuireng dapat menjadi percontohan bagi pesantren lain. "Jadi saya terima kasih kepada pengurus Pondok Pesantren Tebuireng yang sudah mau memulai. Mudah-mudahan nanti bisa ke 42 ribu pesantren lainnya," tandasnya.
Artikel Terkait
Menkes Imbau Warga Terdampak Karhutla Gunakan Masker dan Pantau Kualitas Udara
Menkes Pastikan Iuran BPJS Kesehatan Tak Naik Tahun Depan
Kemenkes Bentuk Tim Khusus Tangani Dampak Gempa NTT
Gempa NTT: Kemenkes Kirim Rumah Sakit Lapangan, Ibu Hamil hingga Pasien Cuci Darah Jadi Prioritas