Hasil survei terbaru menunjukkan penurunan elektabilitas dan tingkat kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto. Temuan ini memicu perbincangan hangat mengenai respons internal Istana Kepresidenan di tengah berbagai tantangan fiskal yang dihadapi pemerintah pusat dan daerah.
Riset dari lembaga seperti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengindikasikan bahwa jika pemilu digelar saat ini, Prabowo kalah telak melawan Dedi Mulyadi. Penurunan ini juga berdampak linier terhadap elektabilitas Partai Gerindra yang ikut terkoreksi ke angka sekitar 16,9 persen. Sementara itu, tingkat kepuasan masyarakat berada di kisaran 51,1 persen, memicu evaluasi terkait efektivitas eksekusi kebijakan awal pemerintahan.
Respons Resmi Istana dan Koalisi
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah bekerja bukan demi mengejar angka popularitas survei, melainkan fokus menyelesaikan janji kampanye seperti ketahanan pangan dan energi. "Kami tidak terpaku pada survei, tetapi pada hasil nyata di lapangan," ujarnya.
Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menyampaikan bahwa data dari SMRC maupun Indikator Politik akan dikompilasi sebagai masukan objektif untuk memperbaiki kinerja. "Kami jadikan bahan evaluasi internal," katanya.
Meski demikian, liputan khusus Tempo menyebutkan bahwa hasil elektabilitas yang menurun ini membuat Istana berada dalam situasi yang tidak nyaman.
Artikel Terkait
Mangkir Pemeriksaan karena Sakit, Ketua Kadin Sultra Tampil di Istana Bersama Presiden
PM Thailand Anutin Tiba di Jakarta, Temui Presiden Prabowo Sore Ini
Iran Tegaskan Tak Pernah dan Tak Akan Miliki Senjata Nuklir
Gibran Mundur atau Prabowo Dimundurkan?