Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini potensi repatriasi modal milik warga negara Indonesia yang selama ini ditempatkan di luar negeri sangat besar. Keyakinan itu muncul seiring rencana pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII).
Purbaya mengaku tidak mengetahui angka pasti dana WNI yang tersimpan di luar negeri, termasuk di pusat keuangan seperti Singapura. Namun, ia menegaskan nilainya sangat besar.
"Saya nggak tahu angkanya seperti apa. Kalau seberapa besar kan berarti saya sudah tahu angkanya persis. Padahal itu uang-uang sebagian gelap, berarti nggak bisa dihitung. Tapi pasti besar sekali," ujar Purbaya di kantornya, Jakarta, Kamis (23/7).
Meski potensinya besar, Purbaya tidak berharap seluruh dana itu otomatis kembali ke Indonesia setelah PFII beroperasi. Menurutnya, PFII lebih diarahkan untuk menciptakan ekosistem investasi yang mampu menarik arus modal baru dari luar negeri.
Purbaya berharap PFII menjadi magnet bagi investor global, termasuk dari kawasan Timur Tengah maupun negara lain yang selama ini mencari tujuan investasi baru.
"Yang kita harapkan nanti yang di luar negeri, seperti dari kawasan Timur Tengah atau negara-negara lain yang mau masuk ke sini, masuk ke sini. Karena tempat di sini (Indonesia) kan menarik," katanya.
"Untuk saya sih expected value-nya zero to positive. Artinya ini game yang bagus yang diambil oleh ekonomi. Expected value-nya positif," terang Purbaya.
Artikel Terkait
Polemik Kipas Angin Rp1,8 Triliun: Menkeu dan Agrinas Saling Lempar Tanggung Jawab
Prabowo Panggil Menteri ke Istana, Bahas Koperasi Desa Merah Putih
Menkeu: Anggaran Makan Gratis Bisa Lebih Hemat Jika Siswa Mampu Tak Lagi Jadi Penerima
Menkeu Bebaskan Bea Masuk Impor LPG dan Komponen Pesawat Mulai 28 Juli