Ketika Algoritma Mengisi Kekosongan Peran Ayah

- Kamis, 23 Juli 2026 | 11:50 WIB
Ketika Algoritma Mengisi Kekosongan Peran Ayah

Di banyak rumah saat ini, pemandangan yang sama mudah dijumpai: seorang ayah sibuk dengan ponselnya, seorang ibu menyelesaikan pekerjaan rumah sambil sesekali memeriksa media sosial, dan anak-anak tenggelam dalam layar masing-masing. Mereka berada di ruang yang sama, tetapi hidup dalam dunia yang berbeda. Keluarga tampak lengkap, namun percakapan justru semakin langka.

Di tengah situasi itu, muncul pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya yang membesarkan anak-anak kita? Jawabannya mungkin tampak jelas orang tua. Namun, jika membesarkan berarti membentuk perhatian, kebiasaan, cara berpikir, dan cara memandang dunia, jawabannya tidak lagi sederhana. Hari ini, algoritma media sosial perlahan mengambil peran tersebut.

Algoritma bekerja tanpa lelah. Ia mempelajari apa yang membuat anak bertahan menatap layar, apa yang membuatnya tertawa, marah, atau penasaran. Semakin lama anak berada dalam ekosistem digital, semakin akurat algoritma mengenali dirinya dan perlahan, ia ikut membentuk perilaku anak. Namun, menyalahkan algoritma semata adalah penyederhanaan. Algoritma tidak mengetuk pintu dan merebut anak dari pelukan orang tua; ia hanya mengisi ruang yang kita kosongkan.

Ketika percakapan keluarga semakin jarang, ketika ayah terlalu lelah untuk mendengar, dan ibu terlalu sibuk untuk menemani, layar hadir menawarkan perhatian. Dari situlah algoritma menjadi teman, penghibur, bahkan guru yang paling sering dijumpai anak.

Kerinduan akan Kehadiran Ayah

Dalam psikologi perkembangan, dikenal istilah father hunger kerinduan anak terhadap keterlibatan emosional ayah. Margo Maine dalam Father Hunger (1991) dan David Blankenhorn dalam Fatherless America (1995) menunjukkan bahwa absennya figur ayah, baik secara fisik maupun emosional, meningkatkan risiko rendahnya kepercayaan diri, kesulitan mengendalikan emosi, hingga kecenderungan mencari pengakuan di luar keluarga. Di era digital, kekosongan itu semakin mudah diisi. Jika dulu anak yang kehilangan perhatian mencarinya di lingkungan pergaulan, kini ia cukup membuka layar. Algoritma selalu tersedia, tidak pernah lelah, dan selalu menawarkan sesuatu yang baru.

Sayangnya, perhatian algoritma bukanlah kasih sayang, melainkan strategi bisnis untuk mempertahankan pengguna selama mungkin. Jonathan Haidt dalam The Anxious Generation (2024) menyebut bahwa masa kanak-kanak berbasis gawai berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, kesepian, gangguan konsentrasi, dan masalah kesehatan mental pada generasi muda. Yang hilang bukan sekadar waktu bermain, melainkan pengalaman membangun relasi sehat dengan manusia lain.

Kesadaran akan bahaya ini mendorong berbagai negara mengambil langkah tegas. Australia melarang anak di bawah 16 tahun memiliki akun media sosial. Beberapa negara bagian AS memperketat akses anak melalui persetujuan orang tua. Prancis dan sejumlah negara Eropa terus memperdebatkan pembatasan usia dan perlindungan digital bagi anak. Namun, regulasi hanya membatasi akses, tidak bisa menggantikan kehadiran.

Dialog Ayah-Anak dalam Al-Qur'an

Di sinilah Al-Qur'an menawarkan pelajaran menarik. Kitab suci ini berulang kali merekam dialog antara ayah dan anak. Luqman berbicara panjang dengan putranya tentang tauhid, akhlak, dan tanggung jawab hidup (QS. Luqman: 13–19). Nabi Ibrahim berdialog dengan Ismail sebelum perintah penyembelihan (QS. Ash-Shaffat: 102–107). Nabi Ya'qub mendengarkan mimpi Yusuf, menasihatinya, dan terus berkomunikasi dengan anak-anaknya sepanjang kisah (QS. Yusuf). Bahkan Nabi Nuh memanggil putranya dengan penuh kasih di tengah banjir besar (QS. Hud: 42–43).

Menariknya, Al-Qur'an lebih sering menghadirkan pendidikan melalui percakapan ayah-anak daripada instruksi kaku. Ini bukan berarti Islam mengurangi kedudukan ibu; justru Al-Qur'an berkali-kali mengangkat kemuliaan ibu, pengorbanannya saat mengandung dan menyusui, serta kewajiban anak berbakti kepadanya. Namun, penekanan pada dialog ayah-anak menunjukkan bahwa keterlibatan ayah bukan sekadar mencari nafkah, melainkan membangun relasi, mendengar, membimbing, dan hadir secara emosional.

Syed Muhammad Naquib al-Attas mengingatkan bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan ta'dib: penanaman adab agar manusia mampu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Adab tidak lahir dari banjir informasi, melainkan dari keteladanan yang tumbuh melalui dialog, perhatian, dan kebersamaan. Tidak ada algoritma, secanggih apa pun, yang mampu menggantikan pengalaman seorang anak melihat ayahnya menepati janji, mendengar keluh kesahnya, atau diajak berdiskusi tentang makna kehidupan.

Barangkali kita terlalu sering bertanya, "Berapa jam anak memegang gawai?" Padahal, pertanyaan yang lebih mendasar adalah, "Berapa lama ayah berbicara dengan anaknya hari ini?" Kita sibuk memasang parental control, tetapi lupa membangun parental conversation. Kita khawatir anak kecanduan layar, tetapi kurang menyadari bahwa yang paling mereka rindukan sering kali bukan aplikasi baru, melainkan perhatian yang tulus.

Pada akhirnya, ancaman terbesar era digital bukanlah algoritma yang semakin cerdas. Ancaman yang lebih halus adalah ketika keluarga kehilangan tradisi berdialog. Ketika rumah berhenti menjadi ruang percakapan, layar akan mengambil alih. Ketika ayah dan ibu tidak lagi menjadi tempat pertama anak bertanya, algoritma akan dengan senang hati menyediakan jawaban meski tanpa hikmah, tanpa kasih sayang, dan tanpa adab.

Mungkin karena itu, tantangan terbesar keluarga Muslim hari ini bukan sekadar membatasi penggunaan gawai, melainkan menghidupkan kembali tradisi percakapan di rumah. Sebab, sejak awal, Al-Qur'an menunjukkan bahwa peradaban tidak dibangun dari layar, melainkan dari dialog. Dan sebelum algoritma mengenal anak-anak kita lebih dalam daripada kita sendiri, sudah saatnya kita kembali duduk, mendengar, dan berbicara dengan mereka.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags