Semakin banyak perusahaan di dunia yang mengadopsi model kecerdasan buatan (AI) buatan China karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan produk kompetitor dari Amerika Serikat. Tren ini terjadi di tengah kenaikan biaya token model AI AS seperti GPT dari OpenAI dan Claude dari Anthropic.
Menurut laporan The Financial Times, perusahaan-perusahaan AS tercatat secara konsisten menggunakan model AI China sejak awal 2026. Data dari Openrouter menunjukkan bahwa penggunaan token untuk model AI China telah melampaui 30 persen setiap minggu sejak Februari. Model AI China disebut 60 hingga 90 persen lebih murah daripada alternatif serupa dari OpenAI dan Anthropic.
Token adalah unit data yang diproses oleh model AI selama pelatihan dan inferensi, yang memungkinkan prediksi, generasi, dan penalaran. Perusahaan seperti Kimi dan DeepSeek menjadi pilihan utama karena efisiensi biaya yang ditawarkan.
Fenomena serupa juga terjadi di India. Laporan dari Nikkei menyebutkan bahwa semakin banyak perusahaan India yang menggunakan model bahasa besar (LLM) buatan DeepSeek, Alibaba, dan Moonshot AI. Hal ini terjadi di tengah rivalitas ekonomi dan teknologi antara China, AS, dan India.
Artikel Terkait
Liang Wenfeng Kini Orang Terkaya di Industri AI, Kalahkan Pendiri OpenAI dan Anthropic
DeepSeek Dikabarkan Kembangkan Chip AI Sendiri untuk Kurangi Ketergantungan ke Nvidia dan Huawei
DeepSeek akan Gandakan Jumlah Karyawan di Tengah Kompetisi AI China